Bandarlampung, Lampung (ANTARA) - Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu mengatakan keberadaan pembangunan pusat pengembangan bioetanol atau bioethanol development center di Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Lampung, menjadi upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi.
"Hari ini bila berbicara terkait ketahanan energi, hilirisasi, transisi energi atau bauran energi dan ketahanan ekonomi. Dan, dengan konteks bioetanol ini atau solar (B50), negara kita sebagai penghasil crude palm oil dengan luas sawit terbesar di dunia memiliki potensi yang sangat besar," ujar Todotua, dalam keterangannya yang diterima di Bandarlampung, Lampung, Senin.
Ia mengatakan bahan baku serta sumber daya pengembangan bioetanol sangat berlimpah, dan perlu peran institusi terkait dalam mengelola serta memberdayakan.
"Berbagai riset dan otomotif menyebutkan di Jepang, sorgum ini jadi bahan baku yang unggul sekali dan sangat ekonomis, sehingga saya langsung ke lokasi meninjaunya," ucap dia.
Dia melanjutkan pemerintah pun akan melakukan pengembangan sorgum sebagai salah satu bahan baku pembuatan bioetanol agar segera diterapkan di Indonesia.
"Ternyata, sejak awal riset di Lampung ini bisa dikembangkan. Dan basis utama yang jadi perimbangan pengembangan ini adalah saat ini penggunaan bensin nasional sebanyak 36 juta kilo liter per tahun, jadi sudah sangat diperlukan pengembangan etanol," katanya.
Menurut dia, melalui pengembangan bioetanol, maka akan membentuk ekosistem yang mempertemukan pertanian, industri, teknologi, investasi, dan masyarakat dalam satu rantai ekonomi berbasis energi terbarukan.
"Lampung memiliki 430 ribu KL, dengan strategi utama reaktivitas, sinergi dengan PTPN, pengembangan sorgum terintegrasi generasi pertama (1G), dan generasi kedua (2G), pilot bioethanol development center atau pusat pengembangan percontohan biomassa, hilirisasi singkong, hilirisasi jagung serta konversi pabrik maka bisa mendukung ketahanan energi," ujar dia.
Melalui pengembangan bioethanol development center di Lampung tepatnya di Masgar, Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Lampung, juga menjadi upaya memperkuat ketahanan energi nasional dan Astacita Presiden.
Dalam pelaksanaan peluncuran bioethanol development center di Lampung, tiga kegiatan dimulai sekaligus, pertama yakni penandatanganan nota kesepahaman para pihak, kedua penanaman simbolis sorgum, serta pembangunan pabrik seluas 10 hektare dari target 20 hektare di Tegineneng, Pesawaran.
Peluncuran bioethanol development center di Lampung tersebut merupakan tindak lanjut dari hasil penandatanganan joint declaration in estabilishing bioetanol ecosystem development in Lampung Province.
Kegiatan dilaksanakan dengan kolaborasi antara Kementerian Investasi dan Hilirisasi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Pemerintah Provinsi Lampung, PT Pertamina New and Renewable Energy (PNRE), PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), PT Toyota Tsusho Indonesia (TTI), serta sejumlah pemangku kepentingan terkait.
Baca juga: Pertamina siapkan infrastruktur pendukung kebijakan bioetanol
Baca juga: ESDM: Mandatori BBM E20 bergantung pada kesiapan bahan baku
Baca juga: Pakar menilai harga bioetanol dari sorgum akan lebih kompetitif
Pewarta: Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































