Jakarta (ANTARA) - Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak kekurangan modal untuk menjadi salah satu tujuan wisata kelas dunia. Rinjani, Mandalika, Gili, Tambora, Moyo, Teluk Saleh, Samota, kekayaan pesisir, serta keragaman Budaya Sasak, Samawa, Dompu, dan Mbojo merupakan aset alam dan budaya yang sulit ditandingi.
Tantangannya, kini bukan lagi bagaimana menemukan objek wisata baru, melainkan bagaimana mengelola kekayaan tersebut menjadi pengalaman wisata berkualitas yang mampu membuat wisatawan tinggal lebih lama, membelanjakan lebih banyak, datang kembali, sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas kepada masyarakat lokal.
Data pariwisata memperlihatkan bahwa mobilitas wisatawan sudah cukup besar, tetapi rata-rata lama menginap masih sekitar 1,8 hari. Karena itu, orientasi pembangunan harus bergeser dari quantity tourism menuju quality tourism, dari menjual tempat menuju menjual pengalaman, cerita, kreativitas dan identitas Lombok-Sumbawa.
Kekuatan NTB semakin strategis karena memiliki Mandalika sebagai global gateway yang memberikan visibilitas internasional melalui penyelenggaraan ajang berskala dunia. MotoGP, misalnya, tidak semestinya hanya dipandang sebagai agenda olahraga, tetapi sebagai pintu masuk untuk memperluas pasar pariwisata, MICE, kuliner, UMKM dan industri kreatif.
Pada saat yang sama, basis ekonomi kreatif NTB telah memiliki fondasi yang cukup kuat, dengan nilai tambah sekitar Rp6,25 triliun dan kontribusi sekitar 12,79 persen terhadap PDRB berdasarkan data 2023 yang digunakan dalam RPJMD.
Kriya, kuliner, seni rupa, tenun, fesyen, musik, desain, hingga produk budaya memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi intellectual property dan merek global. Dengan demikian, pariwisata dan ekonomi kreatif harus ditempatkan sebagai dua sisi dari mesin ekonomi yang sama: pariwisata menciptakan pasar, sedangkan ekonomi kreatif meningkatkan nilai belanja dan daya saing produk lokal.
Mengelola ketimpangan
Pembangunan pariwisata NTB menghadapi persoalan struktural. Pariwisata masih terkonsentrasi di Lombok, sementara Sumbawa dengan potensi Moyo, Samota, Teluk Saleh, Tambora dan kawasan pesisirnya belum memiliki ekosistem pariwisata yang sekuat Lombok.
Karena itu, Sumbawa tidak tepat diperlakukan sebagai “Lombok yang belum berkembang”, melainkan harus dibangun dengan positioning tersendiri sebagai nature and adventure frontier.
Sebaliknya, Lombok perlu memasuki fase peningkatan kualitas dengan memperkuat Rinjani, Mandalika, Gili, Senggigi, Mataram, dan kawasan selatan sebagai koridor pariwisata berkualitas. Integrasi kedua pulau menjadi agenda strategis melalui konsep Lombok-Sumbawa Infinity Experience, sehingga wisatawan yang datang melalui Lombok memiliki alasan kuat untuk melanjutkan perjalanan ke Sumbawa.
Agenda pariwisata berkelanjutan karena itu harus dimulai dari perubahan cara mengelola objek wisata. Pemerintah daerah perlu membangun klaster objek wisata prioritas yang memiliki destination manager, produk wisata, investasi, SDM, kalender ajang, pemasaran digital, dan target ekonomi yang jelas.
Desa wisata juga harus ditransformasikan dari sekadar label administratif menjadi unit ekonomi masyarakat yang memiliki produk unggulan, rumah inap, pemandu, kuliner, kerajinan, storytelling, pembayaran digital, dan sistem pembagian manfaat.
Prinsip keberlanjutan harus menjadi keunggulan kompetitif melalui pengurangan sampah, ekonomi sirkular, pengelolaan air dan limbah, energi terbarukan, rehabilitasi terumbu karang dan mangrove, serta penerapan carrying capacity di kawasan rentan, seperti Gili, Rinjani, Mandalika, Moyo, dan objek wisata pesisir. Orientasinya bukan sebanyak mungkin wisatawan, melainkan sebanyak mungkin nilai ekonomi dalam batas daya dukung lingkungan.
Diversifikasi produk
Dalam konteks itulah program unggulan pariwisata berkelanjutan harus diarahkan untuk menciptakan reason to stay. Wellness tourism, sport tourism, MICE, ecotourism, cultural tourism, marine tourism dan geotourism perlu dikemas menjadi paket perjalanan lintas objek wisata.
Mandalika dapat menjadi pusat sport tourism, Rinjani dikembangkan sebagai pengalaman adventure dan wellness, sedangkan Moyo, Samota, dan Tambora menjadi bagian dari koridor wisata alam premium Sumbawa.
Agenda kegiatan tidak boleh lagi berhenti pada “ramai, dokumentasi, lalu selesai”, tetapi harus dirancang dengan target wisatawan, lama tinggal, belanja, okupansi hotel, keterlibatan UMKM, local procurement, dan dampak ekonomi yang terukur.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































