W.R. Supratman: Pahlawan mewangi, bukan berdarah

3 months ago 17

Jakarta (ANTARA) - Pada setiap tanggal 10 November, ingatan kolektif bangsa kita selalu tertuju pada getaran heroik Pertempuran Surabaya 1945, satu peristiwa yang menjadi simbol keberanian rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan.

Sejarah mencatat heroik fisik, gemuruh senapan, dan lautan darah sebagai harga yang harus dibayar.

Di tengah narasi kepahlawanan yang lekat dengan seragam militer, kita sering melupakan kontribusi para pejuang sunyi yang menggunakan jalur kreativitas dan intelektual. Salah satu di antaranya adalah Wage Rudolf Supratman, seorang komponis, wartawan, dan pemikir yang berjuang dengan biola dan pena, di saat orang lain memilih bedil.

W.R. Supratman meninggal pada tanggal 17 Agustus 1938, tepat tujuh tahun sebelum proklamasi, namun ia meninggal dalam keyakinan total: "Saya yakin Indonesia pasti merdeka,” sebuah pengakuan yang ia sampaikan kepada saudaranya.

Keyakinan total ini tidak muncul dari kehampaan, melainkan dari sebuah kontribusi abadi yang ia tanamkan melalui berbagai karya seninya.

Mari kita perhatikan lirik puitis dari salah satu lagu karyanya, "Pahlawan Merdeka," yang secara radikal mengubah definisi heroik: "Pahlawan merdeka yang gugur sebagai bunga / Jatuh mewangi di atas pangkuan ibunda."

Supratman memilih diksi bunga dan mewangi, alih-alih darah dan senjata. Ini bukan hanya pilihan diksi, tetapi sebuah penegasan filosofis bahwa pengorbanan haruslah suci, indah, dan menghasilkan kebaikan.

Begitu pula lirik dalam lagu itu yang menyatakan bahwa para pejuang adalah "ratna yang pecah dan tersebar di bumi Indonesia."

Ratna atau permata yang tersebar ini adalah warisan yang tersebar di seluruh Nusantara. Mahakaryanya, "Indonesia Raya," adalah perwujudan literal dari kiasan ini, sebuah permata suara yang menyatukan seluruh hati nurani bangsa.

W.R. Supratman adalah pahlawan yang meninggalkan permata yang mewangi dan tersebar, jauh sebelum ia mendapat gelar Pahlawan Nasional.

Warisan biola

W.R. Supratman telah meninggalkan kita semua dengan warisan biola Supratman, sebuah simbol perjuangan yang sangat konstruktif.

Warisan ini menggarisbawahi keyakinan bahwa jalur seni, jurnalisme, dan pengetahuan memiliki dampak yang jauh lebih luas dan mengakar dibandingkan pertempuran fisik.

Supratman menggunakan profesinya, seorang komponis, sebagai medan jihadnya. Ia berjuang dengan keahlian, sebuah pesan yang sangat relevan, saat ini, ketika kita menghadapi tantangan kompleks yang membutuhkan solusi intelektual.

Bahkan, pemerintah menegaskan bahwa perjuangan masa kini adalah melalui ilmu pengetahuan, kerja keras, dan pengabdian.

Supratman adalah teladan sempurna bagi generasi kini untuk menggunakan laptop, laboratorium, atau ruang kelas sebagai medan perjuangan kita, memastikan bahwa kita menghasilkan karya nyata.

Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |