Tips hemat LPG dari Chef Gun di tengah ancaman krisis energi global

3 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Di tengah kondisi geopolitik yang berdampak pada ancaman krisis energi global, pemerintah mengimbau masyarakat untuk hemat energi, termasuk bahan bakar minyak (BBM) dan LPG.

Menyikapi kondisi tersebut, Technical Chef produsen tepung beras Cheff Igun Gunawan memberikan tips praktis untuk menghemat penggunaan LPG atau bahan bakar gas dalam rumah tangga.

Menurut Chef Gun, sapaan akrabnya, antisipasi terhadap ancaman krisis energi tidak selalu harus direspons dengan langkah besar. Peran masyarakat, kata dia, bisa dimulai dengan upaya sederhana namun penuh kesadaran terhadap pola hemat energi termasuk, LPG.

"Banyak orang berpikir krisis energi itu urusan pemerintah atau industri besar. Padahal, dapur rumah tangga juga punya kontribusi besar. Cara kita memasak setiap hari itu menentukan,” ujar dia di Jakarta, Minggu.

Menurutnya, pola memasak masyarakat Indonesia masih cenderung belum efisien. Kebiasaan menyalakan kompor sebelum semua bahan siap menjadi salah satu penyebab utama pemborosan gas yang sering tidak disadari.

“Tanpa sadar, kita sering buang gas hanya karena tidak siap. Kompor sudah menyala, tapi masih sibuk potong bahan. Ini terlihat sepele, tapi kalau terjadi setiap hari, dampaknya besar,” jelas juru masak yang juga sering membina usaha UMKM se-Jawa Barat.

Baca juga: Pelaku UKM sebut kompor listrik solusi hemat di tengah lonjakan harga

Lebih jauh, Chef Gun menekankan efisiensi tidak hanya soal waktu tetapi juga teknik, misalnya perlakuan awal terhadap bahan makanan seperti merendam dapat mempercepat proses memasak, sekaligus mengurangi konsumsi energi.

“Teknik sederhana seperti merendam bahan itu sebenarnya sudah lama dikenal, tapi sering diabaikan. Padahal ini cara paling mudah untuk mempercepat masak tanpa harus menambah waktu pemanasan,” ujarnya.

Selain faktor kebiasaan, aspek teknis seperti kondisi kompor juga menjadi perhatian, menurut Chef Gun banyak rumah tangga yang tidak menyadari bahwa kompor yang kotor atau tidak terawat dapat menyebabkan pembakaran tidak sempurna.

Utamanya bagian tungku pembakaran atau burner yang menjadi sumber penyimpan kotoran berasal dari tumpahan kuah masakan, minyak atau air jika dibiarkan dan tidak dibersihkan akan menghambat aliran gas, sehingga penggunaan gas cenderung boros.

Baca juga: Kompor listrik diusulkan jadi program nasional, guna hemat uang negara

“Api yang bagus itu biru. Kalau sudah kuning, berarti ada yang tidak beres. Itu tandanya gas tidak terbakar optimal, dan kita sebenarnya sedang membuang energi,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pemahaman dasar dalam memasak, termasuk penggunaan api dan alat masak. Menurutnya, masih banyak anggapan keliru bahwa api besar akan mempercepat proses memasak.

“Ini mindset yang harus diluruskan. Api besar justru sering membuat panas tidak merata dan terbuang. Api sedang itu lebih stabil, lebih efisien, dan hasil masakan juga lebih baik,” tegasnya.

Melalui efisiensi energi di dapur, kata dia, diharapkan bisa memberikan dampak sangat besar jika dilakukan secara kolektif oleh jutaan rumah tangga di Indonesia.

“Kalau kita bicara ketahanan energi, jangan selalu melihat ke hulu. Hilirnya, yaitu rumah tangga, juga harus diperkuat. Edukasi seperti ini harus terus digaungkan,” tambahnya.

“Kita mungkin tidak bisa mengendalikan konflik dunia, tapi kita bisa mengendalikan cara kita menggunakan energi di rumah. Dari situ kontribusi besar bisa dimulai,” ujar mantan chef di sejumlah perusahaan makanan itu.

Baca juga: Kiat merawat kompor di rumah agar awet

Baca juga: Bahlil imbau warga pakai energi dengan bijak dan tidak timbun BBM

Baca juga: Bahlil: Sekalipun seluruh dunia terdampak, stok energi Indonesia aman

Pewarta: Subagyo
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |