Kementan pakai metode AWD hemat air 20 persen hadapi Godzilla El Nino

5 hours ago 5
Metode AWD mampu mengurangi penggunaan air irigasi hingga 20 persen tanpa menurunkan produktivitas padi

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pertanian menerapkan metode Alternate Wetting and Drying (AWD) untuk menghemat penggunaan air irigasi hingga 20 persen dalam menghadapi ancaman fenomena El Nino ekstrem atau “Godzilla El Nino” yang berpotensi memicu kekeringan panjang.

"Metode AWD mampu mengurangi penggunaan air irigasi hingga 20 persen tanpa menurunkan produktivitas padi. Upaya efisiensi air menjadi kunci menghadapi musim kemarau yang kian tidak menentu," kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam keterangan di Jakarta, Minggu.

Dia menyampaikan teknologi itu menjadi bagian dari strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, dengan fokus pada efisiensi penggunaan sumber daya air yang semakin terbatas.

Melalui AWD, petani dapat mengatur pemberian air secara lebih terukur sehingga tanaman tetap tumbuh optimal meskipun dalam kondisi keterbatasan air.

Mentan menegaskan pengelolaan air merupakan faktor penentu dalam menjaga keberlanjutan produksi pertanian, terutama di tengah ancaman kekeringan.

Baca juga: Kementan pastikan jaga produksi padi di Jabar dari potensi kemarau

Baca juga: Mentan Amran tegaskan hilirisasi kunci Indonesia jadi negara kuat

“Pengelolaan air menjadi faktor krusial dalam keberhasilan produksi pertanian. Ketersediaan air yang terencana dan efisien sangat menentukan dalam menekan risiko kekeringan serta menjaga produktivitas,” ujar Mentan.

Sementara itu, Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementan Fadjry Djufry menyampaikan metode AWD merupakan inovasi yang dirancang untuk menjawab tantangan nyata di lapangan, khususnya saat musim kemarau.

Ia menjelaskan teknologi AWD merupakan solusi adaptif dalam menghadapi keterbatasan air. Dengan pengaturan air yang terukur, petani dapat menjaga kondisi tanaman tetap optimal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggenangan terus-menerus.

"Sehingga lebih siap menghadapi risiko kekeringan," kata Fadjry.

Ia menambahkan AWD merupakan teknologi yang dikembangkan oleh International Rice Research Institute pada 2009, dan mulai diadaptasi di Indonesia oleh Kementerian Pertanian sejak 2013.

“Berdasarkan hasil pengujian selama enam musim tanam, melalui teknik AWD ini, kelangkaan air di lahan sawah dapat ditekan, bahkan dihindari. Teknologi ini dapat menghemat penggunaan air irigasi 17-20 persen," ujarnya.

Ia menuturkan berbagai penelitian menunjukkan penerapan AWD mampu menekan penggunaan air irigasi secara signifikan tanpa menurunkan produktivitas padi.

Dalam kondisi tertentu, efisiensi itu bahkan membuka peluang perluasan layanan irigasi ke lahan lainnya.

“Selain itu, metode ini juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan melalui perbaikan kondisi tanah dan penurunan emisi gas rumah kaca dari lahan sawah," kata Fadjry.

Sementara itu, analis dari BRMP Lingkungan Pertanian Kementan Ali Pramono menjelaskan penerapan AWD dilakukan dengan mengatur siklus pengairan berdasarkan kondisi kelembapan tanah, sehingga sawah tidak selalu dalam kondisi tergenang.

"Setelah fase penggenangan awal, air dibiarkan surut hingga batas tertentu sebelum diairi kembali," kata Ali.

Pengamatan kondisi air dilakukan menggunakan alat sederhana berupa pipa paralon berdiameter 10-15 cm dengan panjang 30-100 cm yang dilubangi di semua sisinya dan dibungkus kain kassa kemudian dibenamkan hingga tersisa 10 cm – 20 cm di atas permukaan tanah. Pipa ini memiliki prinsip kerja seperti piezometer (alat ukur tekanan cairan-red) sederhana.

Pipa ditempatkan di area yang mudah diakses, dekat pematang, agar memudahkan pemantauan kedalaman air yang mewakili kondisi rata-rata lahan.

“Pengairan kembali umumnya dilakukan ketika muka air di dalam pipa telah turun hingga kisaran 10–15 cm di bawah permukaan tanah, kemudian air diberikan kembali dalam jumlah terbatas hingga tinggi muka air 3-5 cm untuk menjaga kelembapan tanah," tambah Ali.

Siklus itu dilakukan secara berulang, dengan penyesuaian terhadap kondisi lahan dan cuaca, serta tetap menjaga ketersediaan air pada fase kritis seperti pemupukan, penyiangan, hingga fase bunting-berbunga.

Menurut Ali, penerapan AWD tidak hanya meningkatkan efisiensi penggunaan air, tetapi juga memperbaiki kondisi perakaran dan struktur tanah sehingga tanaman lebih tahan terhadap cekaman kekeringan dan berpotensi meningkatkan hasil.

“AWD tidak sekadar menjadi teknik pengairan, tetapi juga bagian dari strategi mitigasi yang memperkuat ketahanan sistem produksi padi," tutur Ali.

Ia menambahkan penerapan AWD menjadi bagian dari strategi climate smart agriculture yang menekankan efisiensi dan keberlanjutan, sekaligus menjaga produktivitas padi di tengah keterbatasan air pada musim kemarau.

Baca juga: Mentan jamin stok pangan di tengah ancaman El Nino

Baca juga: Pemerintah perkuat cadangan pangan hadapi potensi "Godzilla El Nino"

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |