RI tekankan penguatan keterampilan pekerja kreatif di forum UNESCO

3 hours ago 1

Jakarta (ANTARA) - Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO Duta Besar Satrya Wibawa menegaskan pentingnya penguatan keterampilan, pelindungan sosial, dan akses kesempatan yang lebih adil bagi pekerja kreatif.

Menurut siaran pers UNESCO di Jakarta, Kamis (11/6), pernyataan itu disampaikan Satrya saat peluncuran laporan global "Skills and Employment in the Culture and Creative Industries: Strategic Frameworks and Promising Initiatives" di Paris, Prancis, pada Selasa.

"Bagi Indonesia, diskusi ini sangat relevan dan tepat waktu. Ekonomi kreatif telah menjadi pilar penting pembangunan nasional," ujar Satrya.

"Namun, angka-angka ekonomi harus selalu dibaca bersama dengan kebutuhan untuk memperkuat keterampilan, kualifikasi, pelindungan sosial, dan akses terhadap kesempatan yang lebih adil bagi para pelaku kreatif," katanya, menambahkan.

Satrya mengatakan Indonesia telah membangun berbagai instrumen kebijakan untuk mendukung pengembangan ekonomi kreatif, termasuk melalui Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan, Rencana Induk Pemajuan Kebudayaan 2025–2045, serta pembentukan Kementerian Ekonomi Kreatif.

Menurut dia, sistem pendidikan vokasi nasional juga telah mencakup berbagai bidang seni dan industri kreatif, mulai dari seni tradisional hingga animasi, film, dan desain komunikasi visual.

Dalam forum tersebut, Indonesia menekankan empat prioritas yang sejalan dengan rekomendasi UNESCO.

Pertama, investasi publik di bidang kebudayaan harus dipandang sebagai komitmen jangka panjang negara. Pada 2025, Dana Indonesiana menyalurkan Rp465 miliar kepada lebih dari 2.800 penerima manfaat, termasuk seniman, komunitas, dan lembaga kebudayaan.

Kedua, pekerja budaya dan seniman perlu didukung untuk terlibat dalam pertukaran budaya global sekaligus memperoleh pengakuan, kesejahteraan, dan kondisi kerja yang layak.

Ketiga, ekonomi kreatif perlu menjadi bagian penting dari transisi digital dan perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Keempat, pengembangan keterampilan harus berakar pada konteks lokal sekaligus tetap relevan secara global dengan mengakui pengetahuan lokal, praktik tradisional, dan kreativitas komunitas sebagai sumber inovasi.

Satrya menegaskan bahwa masa depan ekonomi kreatif tidak dapat diukur hanya dari nilai ekspor, kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB), atau jumlah tenaga kerja.

Menurut dia, di balik angka-angka tersebut terdapat seniman, perajin, desainer, musisi, pelaku film, pengusaha, dan para pencerita yang menopang kehidupan budaya masyarakat.

"Mereka perlu diakui bukan hanya sebagai bagian dari data ekonomi, tetapi sebagai aktor utama pembangunan yang membutuhkan keterampilan relevan, akses pembiayaan, perlindungan sosial, dan ruang untuk berinovasi," kata Satrya.

Baca juga: Geopark Natuna jadi kandidat Aspiring UNESCO
Baca juga: UNESCO: Mahasiswa pendidikan tinggi naik 2 kali lipat dalam 20 tahun

Pewarta: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |