Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Indonesia dan China berkomitmen memperluas kerja sama pengembangan sumber daya manusia, transfer teknologi, hingga program pendidikan vokasi seiring peringatan 76 tahun hubungan bilateral kedua negara.
Hal tersebut disampaikan Staf Ahli Menteri Sekretaris Negara Bidang Komunikasi Politik dan Kehumasan Sari Harjanti, dalam acara "Alumni Gathering: Indonesia-China Technical Cooperation Programme" di Kantor Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, Kamis.
Sari mengatakan kerja sama yang telah berlangsung selama puluhan tahun tersebut memberikan banyak manfaat bagi Indonesia, terutama di bidang infrastruktur, pertanian, dan transmigrasi. Hingga kini, lebih dari 400 alumni Indonesia telah mengikuti berbagai program yang difasilitasi dalam kerja sama tersebut.
Baca juga: Bank Mandiri terhubung langsung ke CIPS, perkuat konektivitas RI-China
"Ini bermanfaat sekali bagi Indonesia sebagai negara yang berkembang memanfaatkan kerjasama ini di antaranya infrastruktur, kemudian pertanian, transmigrasi," ujar Sari.
Pemerintah berencana terus mengembangkan program tersebut melalui berbagai terobosan baru. Selain program kursus jangka pendek (short course), kerja sama ke depan diharapkan mencakup program pendidikan formal bergelar, pendidikan vokasi, hingga inisiatif kerja sama South-South Cooperation.
Sari menjelaskan Kementerian Sekretariat Negara melalui Biro Kerja Sama Teknik Luar Negeri (KTLN) berperan sebagai pintu masuk berbagai program kerja sama internasional yang kemudian dikoordinasikan dan disalurkan kepada kementerian serta lembaga terkait di Indonesia.
Ia menambahkan, salah satu sektor yang menjadi prioritas untuk dipercepat dalam kerja sama dengan China adalah digitalisasi dan teknologi.
"Program yang ingin kita adopt lebih cepat adalah di bidang digitalisasi dan juga teknologi. Itu yang paling ingin cepat kita capai," katanya menjelaskan.
Dalam kesempatan yang sama, Duta Besar China untuk Indonesia Wang Lutong mengatakan pertemuan alumni yang digelar tahun ini merupakan yang pertama kali diselenggarakan Kedutaan Besar China di Indonesia dan akan kembali dilaksanakan pada tahun depan.
Baca juga: Perusahaan robotika China incar peluang pertumbuhan di Indonesia
Menurut Wang Lutong, dalam 20 tahun terakhir lebih dari 4.000 warga Indonesia telah mengikuti berbagai program pelatihan dan kunjungan ke China, yang berasal dari beragam latar belakang, mulai dari aparatur sipil negara, guru, hingga kepala desa.
"Perdagangan dan investasi bukanlah segalanya dalam hubungan Indonesia dan China. Masyarakat selalu menjadi fondasi hubungan bilateral dan mereka yang seharusnya mendapatkan manfaat dari kerja sama ini," kata Wang Lutong.
Ia menegaskan pemerintah China tidak hanya fokus pada program pelatihan dan pengembangan kapasitas, tetapi juga mendorong pelaksanaan proyek-proyek konkret yang dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat kedua negara.
Sebagai contoh, China berencana membangun pusat sekolah vokasi di Papua serta sentra padi yang memanfaatkan teknologi pertanian China untuk meningkatkan produksi beras di wilayah tersebut.
"Kami memikirkan tentang beberapa program dan proyek konkret yang dirancang untuk memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia dan Tiongkok yang sesungguhnya," imbuhnya.
Baca juga: Indonesia dan China jalin kerja sama pertanian di Papua Selatan
Pewarta: Maria Cicilia Galuh Prayudhia
Editor: Fitri Supratiwi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































