Jakarta (ANTARA) - PT Perusahaan Gas Negara (PGN), Subholding Gas Pertamina menerapkan ekonomi sirkular di wilayah kerja perusahaan dengan program pengelolaan sampah plastik di lingkungan perusahaan menjadi produk yang bernilai.
Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman mengatakan program tersebut tidak hanya menjadi kegiatan pengelolaan lingkungan, tetapi juga bagian dari upaya membangun budaya keberlanjutan yang melibatkan seluruh elemen perusahaan.
"Program ini dihadirkan guna mendorong kemandirian pengelolaan sampah di lokasi perusahaan sehingga mampu memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat," ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Dalam penerapannya, PGN menyiapkan sistem pengelolaan sampah plastik yang terintegrasi mulai dari proses pemilahan oleh seluruh karyawan, pengumpulan dan pengelolaan bersama Kertabumi Recycling Centre, hingga pengolahan akhir bekerja sama dengan Bank Sampah Al-Bustaniyah.
Melalui kolaborasi lintas fungsi dan penerapan prinsip ekonomi sirkular, tambahnya, pihaknya ingin membangun ekosistem kerja yang lebih bertanggung jawab, meningkatkan awareness Environmental, Social and Governance (ESG) di internal perusahaan, sekaligus menciptakan nilai tambah dari limbah menjadi sumber daya yang bermanfaat.
“Kami berharap melalui inisiatif ini kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan dapat semakin meningkat, sehingga mampu mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola sampah plastik," ujarnya.
Baca juga: PGN dan Pemkot Medan perkuat koordinasi penyediaan energi aman
Baca juga: PGN bukukan pendapatan 929,6 juta dolar AS pada triwulan I 2026
Saat ini, PGN juga menjalankan inisiatif bagi komunitas (seperti Bajaj Gas) di mana botol plastik dihargai senilai Rp400 per botol. Peserta dapat menukarkan hingga 61 botol untuk mendapatkan kupon diskon pengisian bahan bakar gas (BBG)
Sementara itu Ikbal Alexander dari Kertabumi Recycling Centre, selaku pendamping program tersebut menilai pendekatan yang dilakukan PGN melalui edukasi, pemilahan, pengumpulan, hingga pengolahan sampah menjadi produk bernilai guna merupakan langkah positif.
Upaya tersebut, lanjutnya, tidak hanya berdampak bagi lingkungan perusahaan, tetapi juga mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah secara bertanggung jawab.
Mengutip data Kementerian Lingkungan Hidup, dia menyebutkan timbulan sampah yang tidak terkelola mencapai 109 ton per hari atau sekitar 75 persen dari total timbulan sampah.
Hal itu memicu berbagai permasalahan lingkungan seperti pencemaran, peningkatan emisi gas rumah kaca, hingga risiko kerusakan ekosistem akibat penumpukan sampah plastik.
Kondisi tersebut, tambahnya, mendorong perlunya kolaborasi dan langkah nyata dalam menciptakan pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
"Kami melihat program seperti ini sangat penting untuk membantu mengurangi timbulan sampah plastik sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular yang berkelanjutan melalui pengelolaan limbah yang lebih bertanggung jawab dan bernilai guna,” katanya.
Baca juga: Padi biosalin PGN-BRIN hasilkan produksi 176 ton di lahan 22 ha
Baca juga: PGN Batam catat 3.757 pelanggan sudah teraliri gas bumi per Maret 2026
Pewarta: Subagyo
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































