Jakarta (ANTARA) - Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menyayangkan kericuhan yang terjadi selepas laga perebutan tempat ketiga Pegadaian Championships 2025/2026 antara Persipura Jayapura melawan Adhyaksa FC di Stadion Lukas Enembe, Kabupaten Jayapura, Papua, Jumat (8/5).
"PSSI sangat menyayangkan kericuhan ini terjadi di Jayapura. Tentu kita prihatin dengan keributan ini," kata Sekretaris Jenderal PSSI Yunus Nusi dalam keterangan audio resmi yang diterima di Jakarta, Sabtu.
Kericuhan pecah setelah Persipura menderita kekalahan 0-1 dari Adhyaksa, yang membuat tuan rumah gagal promosi ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Kekalahan itu menyulut emosi para suporter tuan rumah yang turun dari tribun stadion dan merangsek masuk ke dalam lapangan hingga memicu kericuhan yang menjalar di komplek Stadion Lukas Enembe.
"PSSI juga tidak sampai berprasangka buruk terjadinya hal seperti kejadian yang tadi malam, karena kami tahu bahwa masyarakat Papua dan suporter Persipura sangat cinta sepak bola," ujar Yunus.
Baca juga: Polda dalami penyebab kerusuhan di Stadiun Lukas Enembe
Kericuhan terjadi ketika beberapa oknum suporter masuk ke lapangan dan merusak fasilitas berupa kursi pemain hingga monitor VAR.
Tidak sampai di situ saja, para suporter yang terkena gas air mata akhirnya keluar stadion. Disana para oknum suporter tersebut kemudian melempari petugas keamanan dan sempat membakar sejumlah kendaraan yang berada di sekitar stadion.
Yunus menyatakan PSSI akan mengambil langkah tegas atas insiden tersebut, mengingat saat ini sepak bola Indonesia masih dalam pengawasan ketat oleh FIFA akibat Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan sedikitnya 135 nyawa pada 1 Oktober 2022.
"Ini tentu menggores perjalanan sepak bola kita, karena kita juga tahu hingga saat ini sepak bola kita masih dimonitor oleh FIFA. PSSI berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi," katanya.
Baca juga: Polda: 14 orang diamankan dalam kerusuhan di Stadion Lukas Enembe
Pewarta: Fajar Satriyo
Editor: Gilang Galiartha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































