BRIN apresiasi UMM bertransformasi menjadi "Innovation University"

4 hours ago 4

Malang (ANTARA) - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria mengapresiasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sedang bertransformasi menjadi Innovation University.

Arif Satria dalam kuliah tamu bertajuk “Sosialisasi Kebijakan Arahan Riset Nasional BRIN” di Ruang Sidang Senat UMM di Malang, Sabtu, mengatakan sebagai perguruan tinggi swasta UMM yang paling agresif dan progresif dalam membangun kolaborasi konkret dengan dunia industri.

"UMM itu saya lihat sebagai perguruan tinggi swasta yang paling agresif dan progresif soal berhubungan dengan industri. Sesuai dengan mottonya, Inovasi Mandiri dan Berdampak, ini menunjukkan tanda-tanda kuat bahwa UMM sedang bertransformasi menjadi Innovation University,” kata Arif di hadapan pimpinan dan puluhan peneliti UMM.

Menurut dia, transisi menuju Innovation University menuntut institusi pendidikan untuk tidak sekadar berkutat pada penciptaan pengetahuan dasar (basic research) atau membangun advanced laboratorium. Kampus dituntut untuk memperkuat applied research dan industrial engagement.

Baca juga: Kemdiktisaintek apresiasi langkah UMM bentuk pusat unggulan sawit

Langkah agresif UMM dinilai sangat tepat guna menjembatani fenomena Valley of Death (lembah kematian riset), sebuah kondisi di mana banyak hasil inovasi kampus layu sebelum berkembang, karena gagal diserap oleh kebutuhan riil pasar.

Arif memaparkan urgensi riset di tengah ancaman krisis iklim, perubahan geopolitik dan disrupsi teknologi masif seperti Agentic AI dan transisi energi.

Ia secara terbuka mengundang UMM untuk memaksimalkan fasilitas BRIN dan memanfaatkan skema pendanaan bersama.

Ia juga secara spesifik menantang peneliti UMM untuk menggarap pengolahan critical mineral, seperti rare earth yang terkandung di dalam lumpur Lapindo, mengingat lokasi operasional UMM yang strategis di Jawa Timur.

Merespons tantangan dan apresiasi BRIN tersebut, Rektor UMM Prof Nazaruddin Malik menyatakan bahwa UMM sedang mengonsolidasikan seluruh potensinya menjadi sebuah ekosistem Solution Center of Excellence (CoE).

Baca juga: Sosiolog UMM ingatkan konflik sosial baru akibat krisis energi global

Melalui terobosan micro-credential serta keberadaan unit strategis seperti Direktorat Saintek dan PT Hilirisasi Teknologi (PT Hintek), UMM berupaya keras mengawal inovasi mahasiswa dan dosen langsung ke sektor hilir.

“Kita ingin mendalami produk yang sudah ada di pasar, memodifikasinya agar kualitasnya lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan industri. Saat ini, fondasi pertumbuhan ekonomi nasional masih rapuh, karena didominasi sektor konsumsi,” urai Nazaruddin.

Ia menekankan jika perguruan tinggi berani menginisiasi inovasi yang menguatkan sektor riil, seperti industri pertanian, UMKM lokal, dan teknologi terapan, kampus dapat menjadi lokomotif penggerak tren ekonomi.

“Katakanlah kita dorong dan naikkan 1-2 persen saja menuju struktur ekonomi investment based yang berbasis riset dan inovasi, bangsa ini pasti akan berubah pesat. Ke sanalah UMM melangkah,” ucapnya.

Kolaborasi strategis antara UMM dan BRIN diharapkan menjadi akselerator agar riset tidak lagi sekadar menumpuk di perpustakaan sebagai literatur, melainkan terhilirisasi menjadi solusi ekonomi dan teknologi bagi kemajuan Indonesia.

Baca juga: Menginspirasi, UMM kembalikan seluruh biaya kuliah wisudawan anumerta
Baca juga: Dosen FH UMPR-UMM dan Universiti Malaya kolaborasi riset internasional

Pewarta: Endang Sukarelawati
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |