Pertamina Patra Niaga percepat pengembangan ekosistem SAF

1 day ago 4
produk kami juga sudah banyak dipakai di pesawat-pesawat Boeing

Jakarta (ANTARA) - PT Pertamina Patra Niaga mempercepat pengembangan ekosistem bahan bakar penerbangan ramah lingkungan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).

Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis Pertamina Patra Niaga Joko Pranoto, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, mengatakan pengembangan SAF membutuhkan ekosistem yang terintegrasi, mulai dari ketersediaan bahan baku (feedstock), fasilitas produksi, pembiayaan, maskapai sebagai pengguna (offtaker), hingga dukungan regulasi.

Ia mengatakan Pertamina Patra Niaga telah menyiapkan langkah-langkah dalam menyambut penerapan mandat penggunaan SAF yang ditargetkan mulai berlaku pada 2027.

"Pertamina Patra Niaga terus menyiapkan seluruh ekosistemnya. Dari sisi produksi, fasilitas di Cilacap sudah siap dan tahun ini kami juga melakukan uji coba co-processing di Dumai dan Balongan," ujarnya.

Di saat yang sama, menurut dia, pihaknya membangun pasokan feedstock melalui kemitraan maupun mengembangkan sistem pengumpulan secara internal agar ketersediaannya lebih terjaga.

"Harapannya, ketika mandat penggunaan SAF sebesar satu persen mulai diterapkan tahun depan, Pertamina sudah siap memenuhi kebutuhan pasar," tambah Joko saat menjadi narasumber dalam 3rd Annual Indonesia Aero Summit (IAS) 2026.

Forum tahunan yang diselenggarakan oleh Indonesia National Air Carriers Association (INACA) ini mempertemukan regulator, maskapai penerbangan, pelaku industri, penyedia teknologi, hingga perusahaan energi untuk membahas masa depan industri penerbangan Indonesia.

Baca juga: Kemenhub: Penggunaan SAF fokus bandara Soetta dan I Gusti Ngurah Rai

Baca juga: INACA dorong SAF di bandara internasional antisipasi pajak karbon

Dalam sesi panel forum tersebut, Joko juga membagikan berbagai inisiatif perusahaan dalam mengembangkan SAF di Indonesia, mulai dari pengembangan fasilitas produksi, uji coba bersama maskapai, hingga penyiapan pasar guna mempercepat pemanfaatan bahan bakar penerbangan berkelanjutan tersebut.

"Pertamina Patra Niaga menjadi pionir di Indonesia dengan memulai pengembangan SAF sejak lima tahun lalu. Meskipun tantangan komersialnya masih besar, kami memilih memulai lebih awal, tidak menunggu pasar maupun regulasi sepenuhnya siap untuk mulai bergerak," katanya.

Joko melanjutkan pihaknya telah melakukan uji coba bersama maskapai Garuda Indonesia dan Pelita Air.

Pada 2025, Pertamina juga sudah melakukan kontrak penjualan SAF dengan salah satu maskapai internasional untuk mendukung penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta dan Bali.

Dalam rangkaian Indonesia Aero Summit 2026 itu, PT Pertamina (Persero) bersama Pertamina Patra Niaga juga menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan PT Boeing Indonesia sebagai bentuk kolaborasi untuk mendorong pengembangan ekosistem SAF di Indonesia.

Kerja sama ini mencakup pengembangan edukasi SAF, pemetaan potensi bahan baku, penguatan kapasitas, kajian pasar, hingga advokasi kebijakan untuk mendukung implementasi SAF.

"Penandatanganan MoU ini kami harapkan menjadi akselerasi implementasi SAF di Indonesia. Dunia sudah mulai melihat kapabilitas Pertamina dalam memproduksi SAF dan produk kami juga sudah banyak dipakai di pesawat-pesawat Boeing dan sebagainya. Kolaborasi ini diharapkan semakin mengakselerasi ekosistem SAF di Indonesia," sebut Joko.

Didukung kesiapan produksi melalui Green Refinery Cilacap, pengembangan sumber bahan baku, serta kolaborasi lintas sektor, Pertamina Patra Niaga optimistis implementasi SAF di Indonesia akan semakin berkembang.

"Langkah ini mendorong terbentuknya ekosistem SAF nasional sekaligus mempercepat transisi menuju industri penerbangan yang lebih rendah emisi," jelas Joko.

Baca juga: Pertamina bersama Boeing sinergi pengembangan SAF bagi penerbangan RI

Baca juga: Pertamina: Kesiapan SAF nasional putus ketergantungan impor minyak

Pewarta: Kelik Dewanto
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |