Bank Mandiri tetap cermati arah suku bunga pada paruh kedua 2026

4 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk tetap mencermati arah dan dinamika suku bunga sepanjang semester II 2026 guna mengantisipasi potensi pengetatan likuiditas yang dapat mempengaruhi penyaluran kredit serta aktivitas ekonomi secara keseluruhan.

"Beberapa hal yang kami cermati pada sisa enam bulan ke depan di tahun 2026, banyak terkait dengan dinamika suku bunga. Karena likuiditas tentunya akan terkait dengan kenaikan suku bunga," kata Direktur Utama Bank Mandiri Riduan menjawab pertanyaan wartawan dalam paparan kinerja secara daring di Jakarta, Kamis.

Sepanjang semester II tahun ini, perseroan juga terus mencermati dinamika nilai tukar. Terkait hal ini, Riduan menegaskan bahwa perseroan akan terus mengedepankan pengelolaan risiko yang prudent untuk menjaga ketahanan fundamental dan mendukung stabilitas perekonomian nasional.

Selain itu, perseroan terus mencermati perkembangan global maupun domestik, termasuk dinamika geopolitik dan ekonomi, serta mengantisipasi dampaknya terhadap pergerakan harga komoditas dan pasar keuangan.

Di tengah berbagai dinamika tersebut, Riduan menyampaikan bahwa perseroan tetap berkomitmen menjalankan fungsi intermediasi secara optimal.

Hal ini dilakukan melalui optimalisasi strategi pertumbuhan berbasis ekosistem, akselerasi transaksi dan transformasi digital yang berkelanjutan, serta peningkatan kualitas layanan yang semakin baik.

"Dengan fundamental yang kuat, Bank Mandiri akan terus bertumbuh secara berkelanjutan, memperluas pembiayaan kepada sektor-sektor produktif, termasuk UMKM, serta terus mendukung agenda pembangunan nasional sebagai agent of development," kata Riduan.

Per akhir Juni 2026, Bank Mandiri membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp30,4 triliun per akhir Juni 2026 atau tumbuh tumbuh 24,4 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Secara bank only, kredit Bank Mandiri mencapai Rp1.592 triliun atau tumbuh 19,9 persen (yoy). Di sisi lain, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 17,1 persen (yoy) sehingga mencapai Rp1.710 triliun.

Perseroan menjaga kualitas aset tetap baik dengan rasio non-performing loan (NPL) gross sebesar 0,98 persen. Pada saat yang sama, profitabilitas Bank Mandiri juga tetap kuat, tercermin dari return on equity (ROE) sebesar 24,3 persen dan return on assets (ROA) sebesar 3,10 persen.

Pada Rabu (22/7/2026), Bank Indonesia (BI) melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Bulanan periode Juli 2026 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) pada level 5,75 persen.

Sebelumnya, kenaikan BI-Rate sebesar 50 bps pada Mei 2026 menjadi penyesuaian pertama setelah bunga acuan berada pada level 4,75 persen sejak September 2025.

Namun, rupiah saat itu terus melemah hingga sempat menembus level Rp18.000 per dolar AS pada awal Juni.

Maka, melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Mingguan pada 9 Juni 2026, BI kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps. Sejak keputusan tersebut, rupiah secara bertahap kembali bergerak di bawah level Rp18.000 per dolar AS.

Pada RDG Bulanan 18 Juni 2026, BI juga melanjutkan pengetatan kebijakan moneter dengan kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen. Dengan demikian, BI-Rate secara kumulatif telah naik sebesar 100 bps.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengamini adanya opsi kenaikan bunga acuan pada RDG Juli 2026. Namun, bank sentral lebih memilih untuk memberikan insentif kepada investor melalui kenaikan dan perluasan insentif pengurangan premi lindung nilai guna mendorong arus masuk investasi portofolio asing daripada mengerek BI-Rate.

Perry meyakini bahwa insentif tersebut lebih efektif menarik investasi portofolio asing, mengendalikan nilai tukar, dan tanpa memberikan dampak bagi kenaikan suku bunga di dalam negeri. Menurut perhitungan BI, dampak pemberian insentif terhadap masuknya investasi portofolio asing diperkirakan lebih besar daripada jika BI menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps.

Baca juga: BI pilih insentif guna tarik portofolio asing ketimbang kerek BI-Rate

Baca juga: BI putuskan suku bunga acuan tetap 5,75 persen pada RDG Juli 2026

Baca juga: Ekonom: Pasar butuh sinyal tegas soal akhir siklus pengetatan moneter

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |