Pengamat: Remitansi berpotensi naik signifikan jika PMI ikut prosedur

1 hour ago 2

Jakarta (ANTARA) - Dosen Hubungan Internasional Universitas Budi Luhur, Andrea Azzqy, menilai bahwa potensi tambahan remitansi Pekerja Migran Indonesia (PMI) bisa meningkat secara signifikan jika penempatan PMI melalui jalur resmi terus meningkat.

“Jika penempatan melalui jalur resmi terus meningkat, potensi tambahan remitansi bisa naik signifikan karena aliran dana lebih terpantau dan biaya transaksi lebih efisien,” kata Andrea saat dihubungi oleh ANTARA di Jakarta, Jumat.

Selain itu, Andrea menyebutkan bahwa jika calon PMI mendapatkan pekerjaan dengan upah yang lebih tinggi dan perlindungan yang lebih baik, maka dampak terhadap remitansi nasional akan langsung terasa dalam 3-5 tahun ke depan.

“Sistem penempatan yang tidak efisien dan jalur nonprosedural merupakan kebocoran nilai ekonomi yang besar, bisa jadi bernilai puluhan triliun rupiah setiap tahun,” kata Andrea, menambahkan bahwa dibutuhkan data statistik yang valid untuk menyimpulkan total nilai kerugian tersebut.

Terkait negara penempatan PMI, Andrea menilai bahwa negara dengan prospek terbesar tetap berada di kawasan Asia Timur, seperti Hong Kong, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, serta Timur Tengah.

“Sementara sektor dengan nilai ekonomi tinggi adalah perawatan kesehatan, seperti nurse & home/elderly care, manufaktur, dan jasa konstruksi,” tambahnya.

Meskipun demikian, Andrea juga menekankan bahwa remitansi merupakan cerminan dari kemampuan negara dalam melindungi warganya yang bekerja di luar negeri.

“Remitansi bukan sekadar uang kiriman, tapi cermin kapasitas negara untuk melindungi warganya dan mengubah migrasi menjadi kekuatan ekonomi,” ujar Andrea.

Pada 2025, Bank Indonesia mencatat total nilai remitansi PMI secara nasional melonjak tinggi mencapai Rp288,1 triliun (sekitar 16 miliar dolar AS), naik sebesar 14 persen dibandingkan dengan pencapaian pada 2024, yaitu senilai Rp253,3 triliun.

Sementara itu, berdasarkan data sementara Bank Indonesia dalam Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (SEKI), remitansi PMI pada semester pertama 2026 mencapai 9,1 miliar dolar AS.

Nilai tersebut meningkat 8,74 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, di mana hingga kuartal II 2025, remitansi PMI mencapai 8,4 miliar dolar AS.

Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (SEKI) oleh Bank Indonesia pada 2025 melaporkan bahwa Malaysia dan Arab Saudi menjadi penyumbang remitansi PMI terbesar sepanjang 2025, masing-masing menembus 4,77 miliar dolar AS dan 3,99 miliar dolar AS.

Taiwan menyusul dengan 2,97 miliar dolar AS, diikuti oleh Hong Kong sebesar 2,63 miliar dolar AS, Korea Selatan dan Jepang tercatat sebagai penyumbang lebih kecil, masing-masing 716 juta dolar AS dan 651 juta dolar AS.

Baca juga: Migrant Watch dorong pemerintah RI rombak sistem penempatan PMI

Baca juga: KP2MI dapat pagu Rp3,9 triliun untuk program PMI pada 2027

Pewarta: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |