PBB (ANTARA) - Kantor PBB untuk Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyatakan pertempuran yang semakin meluas di Yaman telah menimbulkan penderitaan berat bagi warga sipil meskipun lembaga-lembaga donor internasional senantiasa mempercepat upaya penyaluran bantuan bagi para pengungsi yang baru tiba di Djibouti.
Dalam pernyataan yang dirilis Kamis (17/9), OCHA menyebut korban di kalangan warga sipil di Yaman terus meningkat, sementara kebutuhan untuk mengakses mereka yang memerlukan bantuan semakin mendesak.
Kantor Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR) telah memverifikasi 55 korban sipil dalam 19 insiden hingga Rabu (16/9) di kegubernuran Taiz, Al Hodeidah, Marib, dan Lahj sejak awal bulan ini. Perempuan dan anak-anak mencakup 84 persen dari total korban tersebut. Angka korban yang sebenarnya diperkirakan jauh lebih tinggi.
"Kendala akses dan pendanaan terus menghambat respons kemanusiaan," kata OCHA.
"Insiden keamanan yang memengaruhi fasilitas, pasokan, dan pergerakan kemanusiaan turut menghambat operasi. Para mitra badan kemanusiaan telah menyiapkan 15.000 paket darurat untuk didistribusikan. Namun, penutupan jalan membuat sebagian besar paket tersebut tidak dapat menjangkau mereka yang membutuhkannya."
Pelabuhan Mocha di Yaman barat daya ditutup setelah mengalami kerusakan signifikan, sementara Program Pangan Dunia (WFP) melaporkan adanya gangguan di 17 titik distribusi di garis depan.
PBB dan mitra-mitra kemanusiaannya melaporkan telah menjangkau lebih dari 70.000 pengungsi dengan memberikan bantuan, termasuk paket respons cepat yang memenuhi sebagian kebutuhan mendesak akan makanan, air, sanitasi dan kebersihan, serta perlindungan, selain juga bantuan tunai.
Pada Selasa (15/9), Dana Tanggap Darurat Pusat PBB (CERF) telah menggelontorkan 9 juta dolar AS (1 dolar AS = Rp17.753) untuk keluarga-keluarga pengungsi dan masyarakat yang menampung mereka. Namun demikian, karena rencana kebutuhan dan respons kemanusiaan Yaman 2026 baru terdanai kurang dari 20 persen, para mitra terpaksa mengurangi bantuan yang menyelamatkan jiwa bahkan ketika masyarakat sangat membutuhkan lebih banyak bantuan.
Stephane Dujarric, juru bicara utama Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, mengatakan bahwa di seberang Laut Merah, pemerintah Djibouti dan tim PBB berupaya menggalang dana sebesar 10 juta dolar AS untuk membantu hingga 10.000 orang selama enam bulan ke depan, menyusul lonjakan tajam kedatangan dari Yaman.
Dujarric mengatakan lebih dari 2.800 pria, wanita, dan anak-anak telah tiba di wilayah Obock setelah menyeberangi Selat Bab al-Mandab.
"Anda dapat membayangkan betapa berbahayanya penyeberangan tersebut," ujarnya dalam sebuah taklimat media rutin.
"Kami, bersama dengan pihak berwenang Djibouti dan para mitra kemanusiaan kami, menyediakan layanan penerimaan, pendaftaran, makanan, tempat tinggal, air, serta perawatan kesehatan dan perlindungan."
Dia menyebutkan bahwa WFP telah mendistribusikan 12.000 jatah biskuit berenergi tinggi, sementara Badan Pengungsi PBB mendukung proses pendaftaran dan logistik. Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) juga telah mengerahkan personel.
OCHA menyerukan kepada semua pihak untuk melindungi warga sipil, menghormati hukum humaniter internasional, serta memfasilitasi akses kemanusiaan yang aman dan tanpa hambatan agar PBB dan para mitra kemanusiaannya dapat menjangkau orang-orang yang membutuhkan bantuan mendesak.
Penerjemah: Xinhua
Editor: Gilang Galiartha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































