Pontianak (ANTARA) - Wakil IV Asosiasi Ilmuwan Administrasi Negara (AsIAN) Prof. Dr. Sri Haryaningsih mengatakan Mobility Programme di Universiti Brunei Darussalam (UBD) menjadi momentum memperkuat jejaring akademik dan kolaborasi lintas negara dalam mengkaji berbagai persoalan serta potensi kawasan Borneo.
"Kegiatan Mobility Programme yang sukses digelar ini menjadi momentum untuk memperkuat jejaring akademik sekaligus membangun kolaborasi lintas negara dalam mengkaji berbagai isu strategis, persoalan dan potensi kawasan Borneo," ujar Sri yang juga merupakan akademisi Fisipol Universitas Tanjungpura (UNTAN) Pontianak, di Pontianak, Jumat.
Ia menjelaskan program tersebut mempertemukan akademisi dan mahasiswa dari sejumlah institusi pendidikan tinggi, di antaranya UNTAN Pontianak, Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS), Politeknik Negeri Pontianak (POLNEP) dan AsIAN Koordinator Daerah Kalimantan Barat.
Menurut Sri, pertukaran gagasan melalui program mobilitas akademik diharapkan menjadi pijakan untuk mengembangkan kerja sama pendidikan, penelitian, publikasi ilmiah, pengabdian kepada masyarakat hingga kajian kebijakan.
Sri menjelaskan Borneo memiliki karakteristik geografis, sosial, budaya dan ekonomi yang saling berkaitan. Secara administratif, pulau tersebut terbagi dalam wilayah Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam.
Kondisi tersebut, katanya, membuat kerja sama akademik lintas negara semakin relevan karena berbagai persoalan di satu wilayah dapat memiliki keterkaitan dengan dinamika di wilayah lainnya.
"Karena itu, pendekatan Borneo Study Issue penting untuk membangun perspektif bersama dalam melihat berbagai tantangan dan potensi kawasan," ujarnya.
Kajian tersebut dapat mencakup sejumlah isu, mulai pembangunan wilayah perbatasan, pendidikan, sosial budaya, ekonomi, lingkungan, pemerintahan hingga pelayanan publik.
Keterhubungan antarkawasan juga terlihat dari keberadaan perbatasan darat Indonesia-Malaysia di Pulau Borneo. Mobilitas masyarakat, aktivitas ekonomi dan interaksi sosial di kawasan perbatasan menjadi realitas yang membutuhkan kajian lintas disiplin dan lintas negara.
Ketua AsIAN Korda Kalimantan Barat Dr. Aripin MAB mengatakan mobilitas akademik memberikan kesempatan kepada mahasiswa dan dosen, untuk merasakan langsung lingkungan akademik di luar negeri sekaligus memperluas jejaring kerja sama.
Ia menilai interaksi akademisi dan mahasiswa dari Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam dapat membuka ruang pertukaran pengetahuan mengenai pendidikan, penelitian, pemerintahan dan pembangunan masyarakat.
"Lebih dari sekadar pertukaran mahasiswa, program ini dapat menjadi pintu masuk bagi terbentuknya jejaring akademik yang lebih luas," kata Aripin.
Ia mengatakan hubungan yang dibangun melalui mobilitas akademik dapat dilanjutkan melalui penelitian bersama, pertukaran dosen dan mahasiswa, seminar internasional, publikasi ilmiah dan pengabdian kepada masyarakat.
Sementara itu, Wakil Ketua AsIAN Korda Kalimantan Barat Dr. Verdico menambahkan keterlibatan UNTAN, UNIMAS, POLNEP dan AsIAN Korda Kalimantan Barat, menunjukkan pentingnya kolaborasi multipihak dalam membangun ekosistem akademik kawasan Borneo.
Kolaborasi tersebut dinilai strategis karena perguruan tinggi akademik, pendidikan vokasi serta organisasi profesi dan keilmuan memiliki perspektif dan keunggulan yang dapat saling melengkapi.
"Ke depan, Mobility Programme diharapkan tidak berhenti pada kunjungan atau pertukaran pengalaman akademik, tetapi menjadi awal kolaborasi berkelanjutan dalam mengembangkan Borneo Study Issue," jelas Verdico.
Melalui kerja sama lintas institusi dan negara, berbagai isu Borneo dapat dikaji secara lebih komprehensif untuk menghasilkan publikasi ilmiah, rekomendasi kebijakan maupun model kerja sama yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dengan demikian, Mobility Programme menjadi salah satu upaya membangun jembatan akademik antara Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam sekaligus mendorong pengembangan kajian keilmuan yang berkontribusi terhadap pembangunan kawasan Borneo.
Baca juga: BTN dan Untan Pontianak perkuat sinergi menuju Indonesia Emas 2045
Baca juga: Untan meluncurkan Khatulistiwa Business Academy cetak pengusaha muda
Pewarta: Dedi
Editor: Rini Utami
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































