Menteri PPN tegaskan pentingnya inovasi terapan untuk ketahanan pangan

1 hour ago 3

Jakarta (ANTARA) - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menegaskan pentingnya inovasi terapan dalam mendukung ketahanan pangan nasional yang produktif, efisien, dan berkelanjutan.

Saat meninjau penerapan riset dan teknologi pertanian berbasis data di Research Center (RC) Yayasan Edu Farmers International (Edufarmers), Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Rachmat mengapresiasi inovasi berbasis data yang langsung diimplementasikan di lapangan.

"Terus terang dengan ada contoh-contohnya seperti ini, model-model seperti ini, maka ada harapan baru bagi pertanian kita. Ada harapan baru buat petani kita dan ada harapan baru untuk membangun swasembada pangan, energi, dan air," ujarnya sebagaimana dikutip dari keterangan resminya di Jakarta, Jumat.

Dalam kunjungan tersebut, Menteri PPN menyaksikan ekosistem solusi pertanian presisi yang mengintegrasikan pengujian fisik tanah hingga analisis berbasis kecerdasan buatan.

Pendekatan pertanian berbasis teknologi digital turut ditampilkan, seperti Soil Test Kit, yaitu alat uji tanah portabel yang telah diuji di lebih dari 200 demplot untuk mengukur pH, hara NPK, C-organik, dan salinitas tanah secara cepat.

Alat ini dipadukan dengan Pak Dayat AI, asisten pertanian berbasis WhatsApp yang memberikan rekomendasi pemupukan secara praktis.

Menurut Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo AA Teguh Sambodo, diagnosa dan rekomendasi dari aplikasi ini menjadi perhatian di banyak mitra pembangunan yang sebenarnya siap berkolaborasi memajukan semua inisiatif lokal, termasuk juga Edufarmers untuk bisa mendorong pertanian lebih regeneratif.

"Satu aspek yang lain adalah bahwa Pak Dayat ini bisa juga diperkaya dengan rencana kami. Nanti juga akan melengkapi gerakan nasional untuk kesehatan tanah, kita punya peta kesehatan tanah dan nantinya iklimnya juga bisa disesuaikan," kata dia.

Selain inovasi digital, Rachmat turut menyaksikan langsung praktik pertanian ramah lingkungan, seperti teknik irigasi berselang Alternate Wetting and Drying (AWD) yang dinilai efektif menghemat air dan menekan emisi gas rumah kaca, serta pengelolaan sisa panen tanpa pembakaran (no-burning rice farming).

Seluruh inovasi tersebut adalah hasil dari tim riset di Edufarmers yang telah menjalankan lebih dari 100 siklus riset pada komoditas padi, jagung, cabai, dan bawang merah sejak 2022.

Langkah ini mendukung peran Edufarm sebagai mitra pelaksana yang menghubungkan kebijakan makro pemerintah dengan kebutuhan aktual di tingkat tapak.

Ekosistem teknologi ini juga telah digunakan oleh petani lokal. Perwakilan Pelopor Tani Aris menyampaikan bahwa kombinasi alat uji tanah dan panduan digital mempermudah pengolahan lahan harian.

"Jadi ini adalah model yang bagus bagaimana kita meningkatkan produksi secara holistik. Tanahnya diperhatikan, iklimnya dilihat, kemampuan petaninya diamati, sampai nantinya akan ada ekosistem bagaimana membangun setiap komoditas," ungkap Kepala Bappenas.

Baca juga: Bappenas tekankan hilirisasi mineral harus rendah emisi

Baca juga: Bappenas: Sains,teknologi, dan matematika jadi basis utama pembangunan

Baca juga: Bappenas sebut KI jadi instrumen keluar dari "middle income trap"

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |