Makkah (ANTARA) - Musim haji 1447 Hijriah perlahan usai, namun denyut spiritual para tamu Allah di Tanah Suci belum sepenuhnya mereda.
Sebelum bertolak kembali ke Tanah Air, ribuan jamaah menyempatkan diri merajut napak tilas sejarah Islam.
Salah satu destinasi yang selalu memanggil hati peziarah adalah Masjid Abdullah Ibnu Abbas di Kota Taif.
Meski harus menempuh perjalanan melintasi pegunungan berbatu dari Makkah, keheningan dan kesejukan Taif tak pernah sepi pengunjung.
Di kawasan masjid tersebut, jamaah dari berbagai penjuru dunia silih berganti datang setiap harinya. Suasana pun terasa hidup dengan keramahan para pedagang pendatang dari Bangladesh hingga Pakistan yang menggelar lapak di sekitarnya.
Berdiri kukuh sejak 592 Hijriah, Masjid Abdullah bin Abbas yang mampu menampung sekitar 3.000 jamaah itu bukan sekadar bangunan ibadah dengan pesona ratusan tiang penyangganya.
Bangunan tersebut adalah penanda sejarah yang menjadi saksi salah satu fase penting dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW.
Lembaran sejarah mencatat, saat tekanan dan embargo ekonomi kaum Quraisy di Makkah kian mengimpit, Rasulullah melangkah ke Taif dengan segenggam harapan.
Beliau berharap penduduk setempat sudi menerima cahaya risalah Islam dan memberikan perlindungan. Namun, harapan itu bertepuk sebelah tangan.
Penduduk Taif menolak keras, mencemooh, hingga memperlakukan Sang Utusan dengan sangat buruk.
Di tengah kepedihan hati dan rencana kembali ke Makkah, Rasulullah sempat beristirahat di sebuah titik lokasi.
Di titik persinggahan nan bersejarah itulah Masjid Abdullah Ibnu Abbas kini membumi, berdiri sebagai pengingat abadi bagi umat Islam akan keteguhan hati seorang nabi.
Selain menjadi saksi bisu perjuangan Rasulullah, masjid ini mengabadikan nama besar sahabat sekaligus sepupu Nabi, Abdullah bin Abbas, yang dimakamkan tak jauh dari lokasi.
Wafat pada 68 Hijriah, sosok Abdullah bin Abbas dikenang sebagai pakar tafsir Al Quran dengan hafalan yang kuat, kecerdasan luar biasa, serta kesetiaan yang tak lekang oleh waktu.
Kini, fungsi masjid terus hidup. Tak hanya untuk salat lima waktu, sholat Jumat, dan salat Id, masjid tersebut juga menjadi episentrum kajian, seminar, hingga perkuliahan agama bagi masyarakat setempat.
Bagi jamaah asal Indonesia, menyambangi Taif adalah upaya meresapi kembali beratnya ujian dakwah di masa lampau, termasuk bagi Suleman, Ketua rombongan jamaah asal Sukabumi, Jawa Barat, yang membawa para jamaah ke kota itu.
"Ziarah ke Taif dilakukan karena ini merupakan kota harapan Rasulullah. Di masa beliau mendapat intimidasi dan embargo, beliau berharap pertolongan dari kaum Taif, meski ternyata Allah belum memberikan izin," ujarnya.
Lebih dari sekadar mengenang sang Nabi, Suleman juga berharap jamaahnya mampu meneladani semangat keilmuan sosok yang disematkan pada nama masjid tersebut.
"Kita berkunjung ke mari karena Abdullah bin Abbas adalah sepupu Rasul yang sudah mendapatkan doa langsung dari Rasulullah. Semoga kita juga terinspirasi menjadi orang-orang yang terus memperdalam ilmu agama. Aamiin," kata Suleman.
Pewarta: Citro Atmoko
Editor: A Rauf Andar Adipati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































