Jakarta (ANTARA) - Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag), Abu Rokhmad menegaskan bahwa toleransi tidak boleh berhenti sebagai slogan semata, tetapi harus hadir dalam perilaku yang menjunjung harmoni sosial dan kemanusiaan.
“Indonesia adalah rumah bersama. Karena itu, nilai rukun, saling menghormati dan cinta kemanusiaan harus selalu kita jaga,” ujar Abu Rokhmad di Jakarta, Senin.
Abu mengatakan harmoni antaragama merupakan prasyarat penting bagi keberlanjutan kehidupan berbangsa. Sebesar apapun potensi sumber daya manusia dan kekayaan alam yang dimiliki, tidak akan menghasilkan kemaslahatan tanpa fondasi kerukunan.
Baca juga: Kemenag siapkan 18 agenda sambut Hari Toleransi Internasional
Menurutnya, Kemenag telah menggelar berbagai kegiatan dalam menyambut Hari Toleransi Internasional sejak sebulan ke belakang, seperti Expo Syiar Budaya Islam, Workshop Pemetaan Potensi Sosial Keagamaan, Bimbingan Remaja Usia Nikah, Ngaji Budaya, hingga Kompetisi Film Islami.
Kemenag juga menggelar Harmony Fun Walk yang bertepatan dengan hari bebas kendaraan di Jalan Thamrin, Jakarta, Minggu (16/11). Kendati demikian, masih ada kegiatan-kegiatan lain yang akan menghiasi momentum Hari Toleransi.
“Setelah kegiatan hari ini, rangkaian masih berlanjut dengan Ijtima Ulama Tafsir Al Quran, Interfaith Harmony untuk Pemuda, Penyerahan Sertifikasi Wakaf, Festival Majelis Taklim, Sakinah Family Run, hingga Konser Toleransi dan Cinta Kemanusiaan,” kata dia.
Ia berharap seluruh aktivitas lintas agama ini menjadi energi positif dalam memperkuat moderasi beragama. Abu menyampaikan apresiasi kepada para tokoh agama dan jajaran Kemenag atas kolaborasi yang terus terbangun.
Abu mengungkapkan pentingnya kerja bersama dalam merawat semangat toleransi sebagai nilai sosial yang mengikat bangsa.
“Semoga semangat harmoni terus tumbuh dalam kehidupan berbangsa. Tugas kita bersama menjaga rukun tanpa retak,” ujarnya.
Dirjen Bimas Buddha, Supriyadi mengungkapkan bahwa cita-cita Indonesia emas akan terwujud apabila seluruh elemen bangsa hidup dalam suasana rukun. Ia menyebut harmoni sebagai syarat kemajuan sosial dan ekonomi.
“Kerukunan adalah jalan menuju kesejahteraan bersama,” ujarnya.
Baca juga: UKP ingin jadikan Indonesia teladan toleransi di tingkat internasional
Baca juga: FKUB Sulteng: Kerukunan merupakan kunci interaksi sosial
Dirjen Bimas Hindu I Nengah Duija mengutip filosofi Vasudhaiva Kutumbakam bahwa seluruh manusia adalah satu keluarga besar.
Menurutnya, nilai itu relevan dengan kehidupan keagamaan di Indonesia yang kaya tradisi dan kearifan lokal.
“Wasudewa kutumbakam mengingatkan kita bahwa perbedaan tidak menjauhkan, tetapi justru menghubungkan,” ujar dia.
Senada dengan Duija, Dirjen Bimas Kristen, Jeane Marie Tulung menyampaikan Indonesia adalah rumah bersama yang dibangun atas prinsip persaudaraan. Ia mengungkapkan pentingnya menjaga ruang publik sebagai tempat perjumpaan antariman.
Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































