Jakarta (ANTARA) - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyampaikan sejumlah program utama Satuan Tugas (Satgas) Protein Kadin untuk memperkuat ekosistem penyediaan protein nasional dalam mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Pertama adalah hilirisasi untuk produk-produk hasil pertanian dan peternakan yang berkaitan dengan protein. Kedua, desentralisasi ayam petelur. Ketiga, pengembangan kawasan sapi perah di Indonesia. Keempat, digitalisasi sistem dari hulu sampai dengan hilir,” ujar Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Peternakan Kadin Indonesia sekaligus Ketua Satgas Protein Cecep Muhammad Wahyudin dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Menurut Cecep, program tersebut diharapkan dapat membangun ekosistem protein yang lebih terintegrasi sekaligus melibatkan masyarakat dan pelaku usaha di berbagai daerah.
Disampaikan pula, dirinya bersama WKU Bidang Pertanian Kadin Indonesia sekaligus Wakil Ketua Hubungan Kerja Sama Internal Satgas Protein Devi Erna Rachmawati menyampaikan program tersebut saat melakukan audiensi dengan Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman di Kantor Kementerian Pertanian RI, Jakarta, Kamis (27/8).
Pertemuan tersebut membahas sejumlah agenda strategis terkait penguatan ekosistem penyediaan protein nasional, khususnya untuk memenuhi kebutuhan program MBG.
Dalam audiensi tersebut, Kadin Indonesia juga menyampaikan sejumlah bentuk kerja sama yang dapat segera dikonkretkan bersama Kementerian Pertanian RI.
Salah satunya terkait pemanfaatan alokasi 3 persen Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk alat dan mesin pertanian (Alsintan) bagi klaster atau ekosistem usaha yang mendukung rantai pasok protein.
“Kita mengajukan 3 persen KUR Alsintan itu untuk klasternya dimasukkan. Karena ini akan melibatkan masyarakat, itu menjadi bagian daripada satu ekosistem supply chain,” jelas Cecep.
Selain itu, Kadin Indonesia mendorong percepatan pengembangan kawasan sapi perah di Indonesia. Untuk mendukung program tersebut, Kadin berharap pemerintah dapat memberikan kemudahan dalam proses importasi serta akses pembiayaan dengan skema kredit yang lebih lunak dan berjangka panjang.
Kadin Indonesia juga menilai keberadaan off-taker yang terjamin menjadi salah satu faktor penting dalam membangun ekosistem protein yang berkelanjutan.
Kadin berharap Kementerian Pertanian dapat membuka ruang kolaborasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai salah satu off-taker terbesar dalam ekosistem MBG.
“Kita ingin ada off-taker yang terjamin. Harapannya Kementan bisa membuka wacana untuk kolaborasi dengan BGN sebagai off-taker yang hari ini paling besar,” ujarnya.
Baca juga: Danantara dan JBS Group kolaborasi pengembangan ekosistem protein RI
Baca juga: Pemerintah siapkan 40 ribu desa tematik perkuat ekspor protein RI
Baca juga: Dharma Jaya salurkan protein hewani ke 816 titik di Jakarta
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































