Jakarta (ANTARA) - Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara, Puskesmas Lapang mengendalikan vektor nyamuk di pos-pos pengungsian Desa Kuala Cangkoi, Aceh Utara, guna mencegah risiko peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) dan malaria.
Dalam keterangan di Jakarta, Minggu, Kepala Puskesmas Lapang Mastuti mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya tanggap darurat pascabanjir. Pengendalian dilakukan melalui pemeriksaan jentik di tempat penampungan air di area pengungsian, pemberian bubuk abate, serta edukasi pencegahan sarang nyamuk kepada masyarakat dengan penerapan 3M Plus.
“Kami memiliki 11 desa dan semua terdampak banjir. Ada tiga desa yang terdampak paling parah hingga rumah warga hanyut dibawa air,” ujar Mastuti.
Ketiga desa itu yakni Desa Kuala Cangkoi, Matang Baro, dan Kuala Keretou.
Tim menyusuri pos-pos pengungsian di wilayah pesisir dan melakukan pemeriksaan langsung terhadap tempat penampungan air yang tidak tertutup, kubangan air di sekitar tenda pengungsian, serta fasilitas MCK darurat.
Selain itu, edukasi kepada warga disampaikan menggunakan bahasa daerah agar pesan pencegahan DBD lebih mudah dipahami.
Ketua Tim Pengendali Vektor Dinas Kesehatan Provinsi Aceh Muhammad Jamil menjelaskan bahwa bubuk abate diberikan pada penampungan air luar rumah atau penampungan air dalam rumah yang tidak digunakan untuk air minum.
“Apabila ditemukan jentik pada tempat penampungan air minum, air akan dipindahkan ke wadah lain terlebih dahulu, kemudian tempat penampungan disikat dan dibersihkan agar telur nyamuk dapat dihilangkan,” katanya.
Jamil menegaskan bahwa hingga kini belum terjadi peningkatan kasus DBD dan malaria pascabanjir di Aceh Utara. Kabupaten Aceh Utara juga telah berstatus eliminasi malaria sejak 2020.
Dia mengimbau masyarakat untuk terus menerapkan 3M Plus, yakni menutup, menguras, dan mendaur ulang tempat penampungan air, serta melakukan langkah tambahan lain guna mencegah perkembangbiakan nyamuk.
Salah seorang warga pengungsian, Efendi (50), menyambut baik kegiatan pemeriksaan jentik tersebut dan menyatakan hingga saat ini belum ditemukan kasus DBD maupun malaria di lokasi pengungsian.
Baca juga: Jalur transportasi di Aceh pulih hingga desa-desa terpencil
Baca juga: Trauma healing anak warnai pemulihan pascabencana di Aceh Tamiang
Baca juga: Pascapembersihan kayu, rehabilitasi Ponpes Darul Mukhlisin dikebut
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































