Jakarta (ANTARA) - Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan komitmen Indonesia melakukan transformasi ekonomi menyeluruh, memperkuat kemitraan strategis, serta mempercepat transisi menuju energi hijau dalam Forum Bisnis Indonesia-Jepang di Tokyo, Senin.
Menurut pernyataan resmi yang diterima di Jakarta, Senin, Presiden Prabowo mengungkapkan bahwa Indonesia sedang melakukan transformasi besar menuju energi bersih dan terbarukan, sebuah langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global, termasuk dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah.
"Dalam tiga tahun ke depan, kami ingin mencapai 100 gigawatt energi surya. Bagi kami, ini lebih mendesak karena situasi yang kami lihat," ujar Presiden.
Selain energi surya, Kepala Negara juga menyoroti potensi besar Indonesia dalam energi terbarukan lainnya, seperti panas bumi, serta pengembangan bahan bakar nabati.
Secara khusus, Prabowo menyoroti Indonesia memiliki salah satu cadangan panas bumi terbesar di dunia dan tengah mempercepat produksi bahan bakar berbasis kelapa sawit, termasuk peningkatan campuran biodiesel dari 40 persen menjadi 50 persen, serta pengembangan bahan bakar berbasis etanol dan berbagai komoditas nabati lainnya.
"Dengan upaya-upaya ini, kita akan berada dalam posisi yang aman untuk menghadapi ketidakpastian apa pun yang ada," tutur Prabowo.
Menyoroti dinamika global yang penuh ketidakpastian, Presiden Prabowo menekankan pentingnya menjaga hubungan ekonomi yang rasional di tengah situasi geopolitik dunia yang semakin kompleks.
"Saat ini kita hidup dalam lingkungan global yang berbeda, penuh risiko, penuh ketidakpastian. Mempertahankan hubungan ekonomi yang rasional sangatlah penting," kata Prabowo.
Baca juga: Prabowo saksikan 10 MoU Indonesia-Jepang dengan nilai Rp384 triliun
Presiden Prabowo juga menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan karakter ekonomi terbuka untuk melakukan perdagangan dan kemitraan internasional.
Oleh karena itu, Indonesia konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif dengan prinsip persahabatan seluas-luasnya.
"Filosofi kami adalah 1.000 teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak. Indonesia berada dalam posisi yang nyaman karena kami tidak memiliki musuh," kata Presiden.
Kondisi geopolitik global saat ini menjadi bukti bahwa negara yang mampu menjaga hubungan baik dengan berbagai pihak, termasuk kekuatan besar dunia, akan berada pada posisi yang lebih rasional dan bijak.
Dalam konteks tersebut, Presiden Prabowo menegaskan pentingnya hubungan Indonesia dengan Jepang sebagai mitra strategis yang harus terus diperkuat.
Baca juga: Prabowo tawarkan investasi transparan di Forum Bisnis RI-Jepang
Kepala Negara menekankan bahwa Indonesia tengah menjalankan reformasi nyata untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang bersih dan efisien.
"Rakyat kita menuntut tata pemerintahan yang baik, tata pemerintahan yang bersih, dan tata pemerintahan yang efisien. Dan saya bertekad untuk melanjutkan apa yang telah saya mulai ketika menerima mandat dari rakyat saya," tutur Prabowo.
Presiden Prabowo menyatakan bahwa transformasi strategis Indonesia mencakup transformasi ekonomi yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah.
Indonesia tidak lagi ingin bergantung pada ekspor bahan mentah, melainkan mendorong industrialisasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Di sisi lain, Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya perlindungan sumber daya alam, termasuk hutan, yang tidak hanya berdampak bagi Indonesia tetapi juga dunia.
"Hutan kita harus dilindungi. Hutan-hutan yang telah hancur, kita harus melakukan reboisasi besar-besaran, bukan hanya untuk kebaikan Indonesia tetapi juga untuk kebaikan dunia," ujar Prabowo.
Baca juga: Presiden hadiri Forum Bisnis Jepang-RI, perkuat hubungan ekonomi
Baca juga: Indonesia-Jepang sepakat percepat Blok Masela di tengah perang AS-Iran
Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Didik Kusbiantoro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































