Gapuspindo: Impor sapi masih diperlukan kembangkan produksi nasional

1 hour ago 3
Kalau untuk sapi memang kita defisitnya masih tinggi. Jadi tidak ada jalan lain, kita harus melakukan impor

Jakarta (ANTARA) - Gabungan Pelaku Usaha Peternak Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) menilai impor sapi masih diperlukan untuk menutup defisit pasokan daging sapi nasional sekaligus mendukung peningkatan produksi dalam negeri.

Direktur Eksekutif Gapuspindo Djoni Liano mengatakan kebutuhan daging sapi nasional masih lebih besar dibandingkan kemampuan produksi domestik, sehingga impor menjadi salah satu instrumen untuk menjaga ketersediaan pasokan.

“Kalau untuk sapi memang kita defisitnya masih tinggi. Jadi tidak ada jalan lain, kita harus melakukan impor,” kata Djoni di Jakarta, Senin.

Ia menyebutkan kebutuhan daging sapi nasional pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar 785.000 ton, sementara kontribusi pelaku usaha yang tergabung dalam Gapuspindo baru sekitar 14–15 persen atau sekitar 120.000 ton dari total kebutuhan tersebut.

Menurut dia, selisih antara kebutuhan dan produksi dalam negeri tersebut menjadi dasar pemerintah dalam menetapkan volume impor setiap tahun.

Baca juga: Impor sapi hidup beri nilai tambah bagi ekonomi

Baca juga: Gapuspindo: Rencana impor 400 ribu sapi penting cegah defisit daging

“Defisitnya itu yang boleh diimpor untuk mengisi kekurangan tadi. Jadi bukan berarti dibatasi sekian, tapi dihitung dari kebutuhan nasional dan produksi dalam negeri,” ujarnya.

Ia menjelaskan impor yang dilakukan saat ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek, tetapi juga mendukung peningkatan populasi sapi di dalam negeri melalui pengadaan sapi indukan.

Menurut dia, rencana impor sapi dari Brasil yang berupa sapi indukan dinilai dapat membantu memperkuat produksi domestik dalam jangka panjang.

“Itu bagus, karena sapi indukan untuk meningkatkan populasi dalam negeri, bukan untuk dipotong langsung,” ujar dia.

Namun demikian, ia menilai pemerintah perlu memastikan skema distribusi dan pengelolaan sapi impor tersebut berjalan efektif agar manfaatnya dapat dirasakan oleh peternak.

“Yang penting dipikirkan model bisnisnya seperti apa, apakah didistribusikan ke peternak atau dikembangkan dulu di fasilitas pemerintah,” ujarnya.

Djoni menambahkan impor sapi hidup dinilai memiliki nilai tambah lebih besar dibandingkan impor daging beku karena melibatkan aktivitas ekonomi di dalam negeri.

Menurut dia, sapi hidup yang digemukkan di dalam negeri dapat menyerap tenaga kerja, memanfaatkan pakan lokal, serta menghasilkan produk turunan seperti kulit.

“Nilai tambahnya cukup besar, mulai dari penyerapan tenaga kerja, penggunaan pakan lokal, sampai hasil samping seperti kulit,” tuturnya.

Di sisi lain, ia mengingatkan kondisi pasar daging sapi juga dipengaruhi oleh daya beli masyarakat serta dinamika global yang dapat mempengaruhi biaya logistik dan ketersediaan pasokan.

“Semua komoditas itu tergantung daya beli. Kalau daya beli kuat, pasar akan tetap bergerak,” ucap Djoni.

Sebelumnya, pemerintah menargetkan peningkatan produksi protein hewani dalam negeri sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan, termasuk melalui pengembangan populasi ternak dan peningkatan produktivitas peternak.

Kementerian Koordinator Bidang Pangan menargetkan penambahan populasi sapi sebanyak 2 juta ekor hingga 2029 sebagai langkah strategis memperkuat produksi daging dan susu nasional.

Selain itu, kebijakan impor juga diarahkan untuk menutup kekurangan pasokan dalam jangka pendek sembari menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.

Gapuspindo berharap kebijakan pemerintah ke depan dapat terus menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan nasional dan penguatan produksi dalam negeri guna mendukung ketahanan pangan.

Baca juga: Gapuspindo: Peningkatan populasi sapi tak turunkan defisit daging

Baca juga: Gapuspindo sarankan pemerintah impor sapi bakalan daripada daging beku

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |