Rumput laut, penggerak ekonomi pesisir Sebatik Barat

4 hours ago 3

Sebatik (ANTARA) - Suasana jalan di Desa Liang Bunyu, Kecamatan Sebatik Barat, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, pagi itu tampak sepi. Tak ada aktivitas seperti yang biasa terlihat di wilayah Sebatik Utara maupun Timur, hanya lalu lalang kendaraan bak terbuka yang mengangkut karung-karung berisi rumput laut kering.

Namun, ketika masuk ke sebuah jalan kecil menuju kawasan perairan, suasananya tampak begitu berbeda. Kehidupan penduduk di Sebatik Barat justru terlihat di rumah-rumah panggung. Mereka berkumpul sembari mengikat bibit-bibit rumput laut pada seutas tali.

Di Desa Liang Bunyu, budidaya rumput laut tidak hanya menjadi mata pencaharian utama masyarakat pesisir, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian setempat karena melibatkan banyak pekerja.

Rumput laut yang dibudidayakan di sana adalah rumput laut merah (Kappaphycus alvarezii), bahan baku utama karagenan — bahan aditif alami yang dipakai sebagai pengental, pengemulsi, dan penstabil dalam berbagai industri, mulai dari pangan, farmasi, hingga kosmetik.

Berbeda dengan Sebatik Timur, yang masyarakatnya lebih banyak menggantungkan hidup dari perdagangan dan perkebunan kelapa sawit, penduduk Sebatik Barat menjadikan rumput laut sebagai sumber penghasilan utama mereka.

Menghidupi masyarakat pesisir

Aktivitas masyarakat di sana telah bergeliat sejak selepas shalat subuh. Ratusan pekerja, yang kebanyakan adalah ibu rumah tangga, berangkat ke kios-kios pembibitan untuk mengikat bibit rumput laut sebelum ditanam di perairan dekat pantai.

Di Desa Liang Bunyu ada sekitar 50 kios pembibitan. Setiap kios mempekerjakan 20 hingga 30 orang dengan upah sekitar Rp120.000 per orang jika mereka bekerja dari pagi hingga sore hari. Pekerja yang lembur sampai malam hari bisa membawa pulang upah sampai Rp200.000.

Baca juga: Menengok budi daya rumput laut di Pulau Ontoloe, NTT

Para pekerja bukan hanya warga Sebatik Barat. Sebagian dari mereka berasal dari Sebatik Utara dan Sebatik Tengah. Setiap hari mereka diangkut dengan mobil bak terbuka menuju tempat kerja.

Meski setiap hari harus melakukan perjalanan 30 sampai 40 menit dan mengeluarkan biaya bulanan sebesar Rp200.000 sampai Rp300.000 untuk sewa kendaraan, para pekerja memilih profesi itu karena bisa mendapatkan penghasilan tetap.

Warga mengikat bibit rumput laut pada tali bentangan sebelum dipasang di perairan dekat pantai di Desa Liang Bunyu, Kecamatan Sebatik Barat, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. (ANTARAFOTO/M Risyal Hidayat)

Hasmawati (50), seorang petani yang menjadi koordinator budidaya rumput laut di Desa Liang Bunyu, mengatakan bahwa hasil panen sangat bergantung pada kondisi cuaca serta pengendalian hama dan penyakit.

Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |