Rainforest Alliance gaungkan transisi menuju pertanian regeneratif

4 hours ago 2
Standar Pertanian Regeneratif baru kami memastikan bahwa dampak terhadap tanah, keanekaragaman hayati, dan penghidupan diukur dan diverifikasi, bukan sekadar klaim semata

Jakarta (ANTARA) - Laporan Tahunan Rainforest Alliance (RA) 2025 berjudul "Regeneration Takes Root" mendokumentasikan bagaimana investasi berkelanjutan dalam penghidupan petani, restorasi ekosistem, dan transformasi pasar selama satu tahun telah membuahkan hasil dalam skala besar di Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Sulawesi, hingga Kalimantan Barat.

Dampak kerja Rainforest Alliance dapat dilihat di berbagai pasar dan komunitas melalui sertifikasi yang mencakup kakao, kopi, teh, kelapa, lada hitam, buah-buahan, serta komoditas lainnya, sebut Kriti Gupta, Corporate Communication Manager Rainforest Alliance Asia Pasifik, dalam rilisnya, yang diterima di Jakarta, Rabu.

Kriti menguraikan Indonesia masih menjadi produsen kakao bersertifikasi Rainforest Alliance terbesar di Asia Pasifik, dengan produksi kakao mencapai 41.400 metrik ton (MT) di lahan bersertifikasi seluas 63,3 ribu hektare (ha).

Diperkirakan 56.000 petani dan 60.000 kebun di negara ini telah tersertifikasi di bawah program kakao Rainforest Alliance per 2025.

Di segmen kopi, tercatat kenaikan volume kopi bersertifikasi di Indonesia sebesar 29 persen, naik dari 20,2 ribu MT pada 2024 menjadi 25,9 ribu MT tahun lalu.

Indonesia juga mengalami lonjakan sebesar 43 persen dalam penjualan kopi bersertifikasi oleh produsen, naik dari 6,9 ribu MT menjadi 9,9 ribu MT.

Rainforest Alliance terus melihat adanya permintaan global terhadap kakao dan kopi bersertifikasi di tengah ketidakpastian yang semakin kompleks, mulai dari guncangan iklim dan fluktuasi hasil panen, hingga perubahan kebijakan perdagangan dan tatanan regulasi yang terus berkembang.

Hal ini juga menekankan perlunya terus memperkuat dukungan bagi para petani yang menghadapi tekanan ini.

Standar baru untuk regenerasi

Perkembangan yang paling menonjol pada tahun 2025 adalah diterbitkannya Standar Pertanian Regeneratif Rainforest Alliance, sebuah kerangka kerja berbasis ilmu pengetahuan dan telah teruji di lapangan, yang dibangun berdasarkan 119 persyaratan yang mencakup kesehatan tanah, air, keanekaragaman hayati, ketahanan tanaman, dan dampak sosial.

Standar ini memetakan jalur khusus bagi petani dan perusahaan untuk memperdalam komitmen mereka terhadap praktik-praktik regeneratif serta secara aktif memulihkan lahan yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Santiago Gowland, CEO Rainforest Alliance, mengatakan tahun lalu menunjukkan apa yang dapat dicapai ketika petani mendapat dukungan dan perusahaan tidak hanya mematuhi peraturan semata, melainkan juga beralih ke investasi regeneratif.

Mempercepat pertanian regeneratif pada dasarnya bergantung pada kepercayaan dan kepercayaan diperoleh melalui bukti yang kredibel dan dapat dibuktikan, katanya pula.

"Standar Pertanian Regeneratif baru kami memastikan bahwa dampak terhadap tanah, keanekaragaman hayati, dan penghidupan diukur dan diverifikasi, bukan sekadar klaim semata. Strategi 2030 kami tidak hanya berfokus pada pengurangan dampak negatif, tetapi juga pada pemulihan, perbaikan, dan regenerasi tanah serta ekosistem hutan tropis yang menjadi tumpuan bagi masyarakat dan ekonomi pangan," ujar dia.

Chandra Panjiwibowo, Senior Director Rainforest Alliance untuk Asia Pasifik, menyatakan perubahan iklim dan deforestasi yang meluas merupakan ancaman nyata bagi manusia dan planet.

"Indonesia memiliki beberapa hutan hujan tropis terbesar, dengan ekosistem yang kaya dan beragam, yang makin menekankan pentingnya pekerjaan kami di lapangan. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi perusahaan, masyarakat, dan pemerintah untuk mempercepat transisi dari sekadar melindungi lingkungan kita menjadi upaya proaktif untuk memulihkannya," katanya lagi.

Melalui 80 program lanskap dan komunitas serta kegiatan sertifikasi di 64 negara, hasil Rainforest Alliance tahun 2025 mencakup lima bidang dampak yang saling terkait yakni ekosistem, keanekaragaman hayati, penghidupan, ketahanan iklim, dan hak asasi manusia.

Pada 2025, organisasi ini telah membantu mencegah atau menyerap 5,5 juta metrik ton emisi gas rumah kaca atau setara dengan menghilangkan 1,2 juta kendaraan pribadi dari jalan raya selama satu tahun, mendukung upaya perlindungan dan pemulihan ekosistem seluas 11,9 juta hektare, yang luasnya kurang lebih setara dengan Islandia, serta memberikan pengetahuan lewat informasi kepada lebih dari 10,8 juta petani dan pekerja mengenai hak dan tanggung jawab mereka.

Melalui premium keberlanjutan dan hasil panen yang lebih tinggi, organisasi ini berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan pertanian sebesar 2,22 miliar dolar Amerika Serikat (AS), termasuk 100 juta dolar AS dalam bentuk premium keberlanjutan langsung yang dibayarkan kepada petani.

Dampak kerja organisasi ini dalam meningkatkan mata pencaharian dapat dirasakan melalui program sertifikasi.

Sebagai contoh, Amir Pataraka dari Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, adalah seorang petani kakao yang telah bergabung dengan program sertifikasi Rainforest Alliance selama tiga tahun terakhir.

Ia berhasil menyekolahkan tiga dari empat anaknya hingga perguruan tinggi berkat pendapatan yang lebih tinggi yang kini dapat ia peroleh melalui praktik pertanian berkelanjutan.

Di Sulawesi Tengah, Rainforest Alliance mendukung 1.000 petani kecil untuk menerapkan praktik bertani yang ramah iklim melalui pengembangan kapasitas dan pelatihan lapangan bagi petani.

Organisasi ini juga telah bekerja di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, untuk mempromosikan pendekatan Pengelolaan Lanskap Terpadu (Integrated Landscape Management) yang mempertemukan berbagai pengguna lahan dan pemangku kepentingan guna mengatasi masalah ekologi, sosial, ekonomi, dan pemerintahan seputar produksi minyak sawit dan karet alam.

Selama lebih dari sepuluh tahun, organisasi ini telah bekerja sama dengan petani kopi skala kecil di Indonesia.

Mulai dari melatih petani dalam praktik pertanian yang baik, memastikan penghidupan berkelanjutan bagi keluarga petani kopi sekaligus melestarikan keanekaragaman hayati di lanskap Bukit Barisan Selatan di Sumatera, hingga mewujudkan rantai pasok kopi yang berkelanjutan dan inklusif di Sulawesi Tengah.

Segel Sertifikasi Rainforest Alliance kini tertera pada 66.000 produk di 172 negara, memberikan keyakinan kepada konsumen di seluruh dunia bahwa pembelian mereka mendukung kelestarian lanskap dan komunitas, di mana manusia dan alam hidup secara harmonis.

Meskipun kemajuan ini nyata, pekerjaan ini masih jauh dari selesai. Rainforest Alliance menyerukan kepada perusahaan, pemerintah, dan investor untuk memperdalam komitmen mereka terhadap pertanian regeneratif serta kepada para petani yang berada di garis depan transisi tersebut.

Baca juga: Pertanian regeneratif untuk hadapi iklim ekstrem

Baca juga: Pertanian regeneratif membangun kesehatan tanah kembali

Baca juga: Wamen LHK luncurkan pusat pertanian regeneratif di Gunungkidul

Pewarta: Budisantoso Budiman
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |