Malalak, Kabupaten Agam (ANTARA) - Sejumlah petani di Jorong Toboh, Nagari Malalak Timur, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Selasa, melakukan panen perdana palawija di lahan yang sebelumnya terdampak bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025 lalu.
Saat ditemui di lahan pertanian, petani setempat, Fitriadi menyampaikan bahwa para petani di sana memilih untuk mengalihfungsikan lahan sawah menjadi lahan sayuran karena saluran irigasi induk terputus akibat tertimbun longsor pascabanjir.
Sekitar tiga setengah bulan pascabencana, menurut Fitriadi, petani sudah mulai melakukan panen perdananya. Sejumlah komoditas seperti bawang prei, terong, dan buncis sudah dipanen, sedangkan tanaman cabai masih dalam tahap pertumbuhan.
“Sebagian sudah panen, kalau cabai masih kecil, yang sudah panen bawang prei, ada juga terong. Ya, (ekonomi) masyarakat bisa bergerak dua bulan ini lah,” kata Fitriadi saat memanen buncis.
Pria paruh baya itu mengatakan bahwa aktivitas ekonomi warga sempat terhenti karena akses jalan terputus, sehingga menghambat distribusi hasil pertanian dan transaksi jual beli. Selain itu, petani juga harus bekerja ekstra membersihkan lahan serta menggemburkan tanah yang mengeras akibat terjangan banjir bandang.
Untuk panen perdana ini, Fitriadi memperkirakan hasilnya dapat mencapai sekitar 10 kilogram. Sementara pada panen berikutnya, produksi diprediksi meningkat hingga 20–25 kilogram.
Jika hasil panen sedikit, ia akan menjual hasil panen ke tengkulak dengan harga Rp6 ribu hingga Rp7 ribu per kilogram, sedangkan jika hasil panen melimpah, dirinya akan menjual ke pasar Padang Luar, Agam, dengan harga sekitar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram.
“Alhamdulillah sekarang sudah bisa membawa hasil panen meski jalan buka tutup, pas dibuka jalan. Sudah bersyukur sekali jalan ini bisa lewat, kampung sudah bergairah kembali. Dulu, pas bencana wajah masyarakat murung se, dua bulan begitu,” kata Fitriadi.
Hal serupa disampaikan petani lainnya, Fadli Nur yang juga melakukan panen perdana bawang prei setelah mengalihfungsikan lahan sawah. Pada panen pertama, ia berhasil mengumpulkan sekitar 35 kilogram hasil panen.
“Gimana mau bersawah, lokasi air belum tau, irigasi induk itu abis, tertimbun semuanya. Tanah kering karena tanah dari hutan rimba, rencana semua mau ditanam daun bawang. Ini baru panen, perdana baru,” ujar dia.
Fadli menjual bawang prei dengan harga Rp5-6ribu per kilogram calon pembeli yang ingin membeli langsung ke rumahnya. Sedangkan untuk harga jual di Pasar Padang Luar dimulai dari Rp7 ribu per kilogram.
Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































