Kehakikian kemenangan adalah toleransi

2 hours ago 1

Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Sejak Jumat (20/3), hingga Sabtu (21/3), bahkan hingga sepekan ke depan, seluruh umat Islam di Indonesia merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah atau dalam penanggalan Masehi ditunjukkan dengan angka 2026.

Tahun ini juga bisa dikatakan sebagai "tahunnya umat beragama di Indonesia". Satu bulan selepas warga Tionghoa mengawali Tahun Baru Imlek, selang sebulan, setelahnya, giliran umat Hindu melaksanakan Nyepi dan dilanjutkan umat Islam merayakan Idul Fitri.

Kita boleh berbeda keyakinan, tapi secara hakikat kita adalah manusia yang terhimpun dalam satu bangsa. Toleransi adalah sikap untuk saling menghargai, meskipun dalam berhadapan dengan perbedaan.

Hari raya di Indonesia bukan sebatas perayaan, tapi punya makna yang lebih luas lagi karena di tengahnya menyuguhkan pilihan untuk saling menerima. Saling menerima yang terangkum dalam sikap toleran itu merupakan kekuatan utama dalam menjaga persatuan Indonesia yang berbeda suku, bahasa, budaya, dan agama.

Ada salah satu tayangan video di media sosial yang menunjukkan kemeriahan pawai ogoh-ogoh di Bali, menjelang Nyepi, seketika hening, saat terdengar lantunan adzan dari salah satu masjid. Setelah adzan selesai, pawai ogoh-ogoh itu kembali digerakkan.

Fenomena tersebut baru satu contoh, tapi sudah menggambarkan bahwa masyarakat Indonesia selalu memegang nilai saling menghargai sebagai sesama manusia dan kebebasan beragama dijunjung tinggi.

Di tempat lain, di Kota Malang, misalnya. semangat toleransi di hari kemenangan begitu kental terasa. Kala umat Islam melaksanakan ibadah shalat id, muncul kehadiran umat Katolik pengurus Gereja Paroki Hati Kudus Yesus di Jalan MGR Sugiyopranoto.

Umat Katolik dengan senang hati membuka pintu area pelataran gerejanya untuk digunakan sebagai lokasi pelaksanaan shalat id yang dipusatkan di Masjid Agung Jamik Malang.

Karena jumlah peserta ibadah shalat id mencapai ribuan, sementara kapasitas masjid tak menampungnya, maka area pelataran gereja juga digunakan untuk tempat shalat.

Satu per satu, bahkan rombongan keluarga datang untuk melaksanakan shalat di depan gereja itu. Di tempat itulah senyum sesama manusia terpancar. Mungkin mereka tidak saling kenal, namun kekuatan ikatan persaudaraan sesama anak bangsa menjadi perekat.

Tidak hanya meminjamkan akses, pengurus gereja turut mengawal dan memastikan kelancaran serta kesakralan ibadah saudara sesama manusianya.

Selepas selesai shalat, pengurus gereja berbaris di depan pelataran, menunggu jamaah keluar. Mereka saling menyalami, mengucapkan selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.

Fakta itu menunjukkan kesadaran mengenai nilai toleransi yang patut diapresiasi. Pemandangan itu, bukan sebatas hari perayaan kemenangan, tapi menjadi simbol rasa saling menghormati dan menghargai perbedaan.

Romo Paroki Hati Kudus Yesus Kota Malang Henrikus Suwaji mengatakan bahwa tradisi menyediakan tempat shalat id di pelataran gereja telah berlangsung cukup lama. Arsip paling jelas berupa dokumentasi foto pada tahun 1993.

"Saya menemukan foto tahun 1993 itu sudah ada seperti ini, kami menyambut semuanya," kata dia.

Apa yang sudah berjalan pun dipertahankan sampai sekarang. Langkah ini untuk menjaga toleransi dan ikatan persahabatan.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |