Pentagon bantah sengaja hapus data kematian prajurit

5 hours ago 2

Washington (ANTARA) - Juru Bicara Departemen Pertahanan Amerika Serikat Sean Parnell, Jumat, membantah laporan media yang menyebutkan jumlah korban tewas tentara AS di situs web Pentagon telah dikurangi karena alasan selain gangguan data sementara.

Pada Kamis (23/7), The New York Times melaporkan jumlah korban tewas tentara AS yang tercantum di situs web Pentagon tiba-tiba turun dari 18 menjadi 14.

Menurut surat kabar tersebut, salah satu alasan yang mungkin dilakukan adalah pemerintahan Presiden AS Donald Trump menghapus nama empat tentara yang tewas pada akhir pekan lalu itu karena kematian mereka terjadi setelah Trump mengumumkan gencatan senjata di tengah konflik dengan Iran pada April lalu.

"Ini adalah salah satu contoh terburuk dari industri media fake news, yang mengada-ada kebohongan tanpa alasan sama sekali, kecuali untuk menimbulkan kekhawatiran di kalangan rakyat Amerika. Kantor Pers Pentagon kami telah menghubungi The New York Times melalui telepon, secara tidak resmi, untuk menjelaskan secara rinci bahwa kesalahan pada situs Defense Casualty Analysis System (DCAS) disebabkan oleh gangguan data sementara," tulis Parnell di platform X.

Dia menambahkan bahwa Pentagon sedang bekerja sama dengan pihak militer AS untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Sejak 8 Juli, militer AS telah melancarkan sejumlah serangan terhadap Iran, dengan Trump menyatakan bahwa gencatan senjata tidak lagi berlaku.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan serangan-serangan tersebut merupakan respons terhadap tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

Militer Iran pun membalas dengan melancarkan serangan terhadap sejumlah pangkalan milik AS yang berada di beberapa negara di Timur Tengah. Iran juga menuduh Amerika melanggar gencatan senjata.

Sumber: Sputnik

Baca juga: AS akan bantu Venezuela cairkan aset beku untuk pemulihan pasca-gempa

Baca juga: Trump kejutkan negosiator dengan syarat "Perjanjian Abraham" ke Saudi

Penerjemah: Fransiska Ninditya
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |