Penjualan mobil listrik di AS turun imbas pencabutan insentif pajak

4 days ago 4

Jakarta (ANTARA) - Penjualan mobil listrik di Amerika Serikat mulai menunjukkan penurunan signifikan setelah insentif pajak federal untuk kendaraan listrik dihentikan pada 30 September tahun lalu.

Dilansir dari Carscoops pada Selasa, data awal mengindikasikan bahwa tingkat permintaan sebelumnya sangat bergantung pada insentif tersebut, dan setelah dicabut, pasar mobil listrik di Negeri Paman Sam kini menghadapi fase penyesuaian yang cukup tajam.

Berdasarkan data S&P Global Mobility, sebanyak 59.802 unit mobil listrik baru terdaftar pada Januari atau turun 41 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari total hampir 1,2 juta mobil yang terdaftar pada bulan tersebut, pangsa pasar mobil listrik murni hanya mencapai 5,1 persen, turun dari 8,3 persen pada tahun lalu.

Di sisi lain, mobil berbahan bakar bensin justru meningkat pangsa pasarnya menjadi 76,6 persen, sementara mobil hybrid juga naik menjadi 14,7 persen.

Baca juga: Penjualan kendaraan listrik global turun 11 persen pada Februari 2026

Meski demikian, Tesla masih mendominasi pasar EV di Amerika Serikat dengan 32.123 unit terdaftar pada Januari. Namun, angka tersebut tetap mengalami penurunan 26 persen secara tahunan.

Namun, pangsa pasar Tesla justru meningkat menjadi 53,7 persen. Cadillac menempati posisi kedua dengan selisih cukup jauh, mencatatkan 3.189 unit mobil listrik terdaftar atau lebih dari sepuluh kali lebih kecil dibanding Tesla.

Cadillac termasuk sedikit dari pabrikan otomotif yang masih mencatatkan pertumbuhan, dengan kenaikan 8,1 persen secara tahunan serta peningkatan pangsa pasar sebesar 2,3 poin menjadi 5,3 persen.

Sementara itu, sejumlah produsen lain justru mengalami penurunan tajam penjualan mobil listrik. Hyundai misalnya mencatat 3.027 unit pada Januari, turun 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya, terutama dipengaruhi penurunan penjualan model Ioniq 5 sebesar 22 persen menjadi 2.101 unit.

Ford juga mengalami penurunan signifikan sebesar 67 persen menjadi 2.772 unit, diikuti Chevrolet yang turun 55 persen menjadi 2.658 unit.

Di sisi lain, Toyota mencatat pertumbuhan 25 persen, meski total penjualannya masih relatif kecil yakni 2.529 unit dan masih tertinggal dari sejumlah pesaing.

Analis eksekutif iSeeCars, Karl Brauer, menyebut kondisi ini sebagai fase penyesuaian terhadap kondisi pasar baru tanpa insentif pemerintah.

Hal senada disampaikan analis S&P Global Mobility, Tom Libby, yang menilai penurunan ini sudah diperkirakan dan menjadi bagian dari proses perombakan ulang pasar yang kemungkinan berlangsung secara bertahap dalam beberapa waktu ke depan.

Baca juga: Kecenderungan konsumen mobil listrik Xpeng berubah

Baca juga: Geely salip penjualan mobil penumpang BYD di China pada Januari 2026

Baca juga: Geser Tesla, Eropa kini punya juara baru penjualan mobil listrik

Pewarta:
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Read Entire Article
Rakyat news | | | |