Jakarta (ANTARA) - Pada 1860-an, sebuah perusahaan biliar di Amerika Serikat menawarkan hadiah bagi siapa saja yang mampu menemukan pengganti gading gajah sebagai bahan bola biliar.
Sayembara itu digelar untuk mengurangi ketergantungan terhadap gading sekaligus mengatasi kelangkaan bahan baku alami tersebut.
Alexander Parkes kemudian mengembangkan bahan yang menjadi cikal bakal seluloid, yang selanjutnya disempurnakan oleh John Wesley Hyatt. Dari sinilah lahir bola biliar komersial pertama yang dibuat dari seluloid. Penemuan tersebut dianggap sebagai salah satu tonggak awal perkembangan plastik modern.
Berlanjut pada 1907, ketika seorang kimiawan berdarah campuran Belgia-Amerika bernama Leo Baekeland menciptakan bakelite, plastik sintetis pertama yang sepenuhnya dibuat dari bahan kimia, bukan dari bahan alami.
Bakelite memiliki banyak keunggulan yaitu murah, kuat, tidak menghantarkan listrik dan mudah dicetak. Ini menjadi awal dari bahan plastik yang dapat digunakan untuk berbagai produk kebutuhan manusia.
Saat perang dunia kedua tahun 1939–1945, plastik digunakan untuk peralatan militer, isolator listrik, komponen pesawat, parasut sampai helm.
Setelah perang berakhir, industri yang telah menguasai teknologi produksi plastik mulai mencari pasar di luar kebutuhan militer. Plastik pun diproduksi dan digunakan secara luas oleh masyarakat.
Awalnya plastik yang murah, awet, dan tahan lama dianggap sebagai penyelamat lingkungan karena membantu mengurangi penggunaan gading gajah dan tanduk hewan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada kayu untuk membuat perabot, kertas, dan berbagai produk lainnya.
Namun, kenyataan saat ini menunjukkan ironi yang berbeda. Manusia semakin bergantung pada plastik. Produksinya terus meningkat, penggunaannya semakin meluas, dan pada saat yang sama, polusi plastik pun terus bertambah.
Saat ini diperkirakan miliaran ton plastik telah diproduksi sejak ditemukannya plastik modern. Sebagian besar material tersebut masih berada di lingkungan, baik dalam bentuk utuh maupun sebagai pecahan berukuran kecil, mikro, bahkan nano.
Mikroplastik adalah partikel plastik berukuran sangat kecil, umumnya kurang dari 5 milimeter. Partikel ini dapat berasal dari pecahan plastik berukuran lebih besar atau dari produk yang sejak awal memang mengandung partikel plastik berukuran mikro.
Sementara itu, nanoplastik berukuran jauh lebih kecil, yakni kurang dari 1 mikrometer atau bahkan hanya beberapa nanometer. Sebagai perbandingan, ukurannya jauh lebih kecil daripada diameter rambut manusia dan bahkan mendekati ukuran sejumlah komponen biologis dalam tubuh.
Karena ukurannya yang sangat kecil, mikroplastik dan, terutama, nanoplastik dapat menyebar hampir ke seluruh lingkungan dan sangat sulit dihilangkan.
Baca juga: KLH siapkan aturan produsen wajib biayai pengelolaan sampah plastik
Baca juga: Konservasi Indonesia edukasi bahaya sampah plastik peringati Hari Bumi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































