Obituari - Nasirun, maestro perupa Indonesia yang membumi

5 days ago 14
Dia tidak mau terpenjara oleh tuntutan algoritma media sosial

Yogyakarta (ANTARA) - Ucapan duka yang tertulis pada puluhan karangan bunga berjajar memanjang hampir memenuhi kompleks Perum Bayeman Permai, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), tempat jenazah Nasirun, maestro seni rupa Indonesia, disemayamkan.

Lantunan ayat suci Al-Qur'an menggema dari rumah duka itu di Sabtu (1/8) pagi yang sendu.

Ratusan orang tampak kompak mengenakan pakaian serba hitam. Mereka datang silih berganti untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang selama puluhan tahun dikenal sebagai seniman besar yang rendah hati.

Di dalam rumah duka, antrean pelayat yang hendak menunaikan salat jenazah nyaris tidak pernah terputus. Teman, keluarga, kolega, pejabat, seniman, hingga warga sekitar larut dalam suasana duka, mengiringi kepergian Nasirun kembali ke pangkuan Ilahi.

Di balik reputasinya yang mendunia, Nasirun dikenal sebagai pribadi yang sederhana, ramah, dan tidak pernah merepotkan orang lain. Ketenarannya tidak pernah mengubah cara ia memandang sesama. Namanya boleh melanglang dunia melalui karya-karyanya, tetapi kehidupannya tetap membumi.

Di antara ratusan pelayat, terdapat sosok yang mengenal Nasirun begitu dekat, yakni Jumaldi Alfi Chaniago. Selain bertetangga dalam satu kompleks perumahan, Alfi juga merupakan rekan sesama seniman sekaligus adik tingkat Nasirun saat menempuh pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), yang kini menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Karena tinggal berdekatan, Alfi hampir setiap hari bertemu dengan Nasirun. Kabar duka yang datang secara tiba-tiba membuatnya benar-benar terkejut. Sehari sebelumnya, mereka masih sempat berbincang seperti biasa.

"Terakhir ketemu itu Jumat sore. Ssaya sendiri pas dikasih tahu tadi pagi langsung kaget sekali karena tidak menyangka," kata Alfi.

Bahkan, dua hari sebelumnya mereka masih menghadiri sebuah pameran seni dan saling bercanda. Meski demikian, Alfi mengakui sempat melihat kondisi fisik Nasirun tampak kurang sehat dalam beberapa hari terakhir.

"Tapi kan kita ngerasa itu pengaruh cuaca. Jogja hari ini kan memang lagi dingin," ujarnya.

Pada Sabtu sekitar pukul 02.00 WIB, Alfi menerima kabar bahwa Nasirun dilarikan ke rumah sakit karena mengalami sesak napas yang cukup berat. Empat jam kemudian, sekitar pukul 05.50 WIB, kabar duka berpulangnya Nasirun sampai kepadanya.

Berdasarkan informasi yang diterimanya dari keluarga, Nasirun telah mengalami sesak napas selama tiga hari terakhir. Namun, seperti yang selama ini dikenalnya, Nasirun tidak pernah mengeluhkan kondisi kesehatannya kepada orang lain. Bahkan, Alfi baru mengetahui bahwa sahabatnya itu mengidap pneumonia dan penyakit asam lambung.

"Jadi memang kalau sesaknya itu kata keluarga tiga hari ini udah sesak, cuman kan hilang timbul," ujarnya.

Selesai dengan dunia

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |