PBB (ANTARA) - Kegagalan gencatan senjata antara Israel dan Hamas, yang saat ini berlaku di Jalur Gaza akan menjadi “titik tanpa kembali”, kata Perwakilan Tinggi Dewan Perdamaian (Board of Peace) Nickolay Mladenov, Rabu (26/8).
“Jika gencatan senjata runtuh dan Jalur Gaza kembali terjerumus ke dalam eskalasi besar-besaran, tidak akan ada peta jalan untuk kembali, tidak akan ada pemerintahan yang dapat dikerahkan, dan tidak akan ada lagi yang tersisa di lapangan untuk dibangun kembali,” kata Mladenov kepada Dewan Keamanan PBB.
“Itu bukan sekadar kemunduran. Itu akan menjadi titik tanpa kembali bagi semua pihak.”
Pada 9 Oktober 2025, Israel dan Hamas, melalui mediasi Mesir, Qatar, Amerika Serikat, dan Turkiye, mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang di Jalur Gaza yang kemudian difinalisasi dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Sharm el-Sheikh pada 13 Oktober.
Kesepakatan tersebut antara lain mencakup gencatan senjata, pembebasan sandera yang ditahan di Jalur Gaza sebagai imbalan atas pembebasan tahanan Palestina, peningkatan bantuan kemanusiaan, serta penarikan pasukan Israel secara bertahap.
Namun, pelaksanaan kesepakatan tersebut masih belum sepenuhnya rampung.
Para pihak masih berselisih mengenai urutan langkah selanjutnya. Israel menuntut Hamas dilucuti terlebih dahulu sebelum penarikan pasukan lebih lanjut, sedangkan kelompok pejuang Palestina itu bersikeras bahwa serangan Israel harus dihentikan terlebih dahulu, pasukan ditarik, dan bantuan kemanusiaan dipenuhi.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA
Baca juga: PBB serukan perlindungan internasional bagi Palestina
Baca juga: Parlemen Arab kecam penolakan Israel terhadap rencana damai Gaza
Penerjemah: Asri Mayang Sari
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































