KPPPA kampanye bahasa isyarat perkuat perlindungan anak disabilitas

1 hour ago 2

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) menggelar kampanye bahasa isyarat dalam rangka peringatan Hari Bahasa Isyarat Internasional Tahun 2026 untuk memperkuat perlindungan anak penyandang disabilitas.

"Hari ini kita berkumpul bukan sekadar untuk memperingati sebuah momentum. Lebih dari itu, kita sedang mengingatkan kembali satu prinsip yang sangat mendasar dalam perlindungan anak, bahwa setiap anak memiliki hak untuk berkomunikasi, untuk didengar, untuk dipahami, dan untuk menyampaikan apa yang dipikirkan, dirasakan, dibutuhkan, maupun diharapkannya," kata Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak KemenPPPA Titi Eko Rahayu di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, bahasa isyarat tidak hanya sebagai rangkaian gerakan tangan atau keterampilan komunikasi bagi kelompok tertentu, melainkan bahasa yang memungkinkan seseorang membangun relasi, memperoleh informasi, belajar, mengekspresikan diri, menyampaikan pendapat, mengambil keputusan mengenai dirinya, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

Baca juga: Hari Bahasa Isyarat Internasional 23 September, ini sejarahnya

Ia mengatakan bahwa bagi anak penyandang disabilitas tuli, komunikasi adalah bagian dari pemenuhan hak anak.

Sehingga ketika seorang anak dapat berkomunikasi dengan baik, ia memiliki ruang untuk mengatakan apa yang ia rasakan.

"Ia dapat menyampaikan ketika dirinya takut, tidak nyaman, sakit, mengalami perundungan, atau menghadapi kekerasan. Ia juga dapat mengatakan apa yang ia sukai, apa yang menjadi cita-citanya, dan bantuan seperti apa yang ia butuhkan," kata Titi Eko Rahayu.

Oleh karena itu, upaya membangun akses komunikasi yang inklusif, menurutnya merupakan bagian dari upaya mencegah kekerasan, mencegah diskriminasi, memperkuat perlindungan, dan memastikan tidak ada anak yang tertinggal.

Melalui kegiatan kampanye tersebut, KemenPPPA mengajak masyarakat untuk mulai belajar bahasa isyarat.

"Sebab membangun masyarakat yang inklusif tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang-kadang, perubahan dimulai dari keberanian kita untuk mengatakan saya belum bisa, tetapi saya mau belajar. Belajar menyapa. Belajar memperkenalkan diri. Belajar memahami kebutuhan orang lain. Belajar untuk tidak merasa canggung ketika berkomunikasi dengan penyandang disabilitas tuli," kata Titi Eko Rahayu.

Hari Bahasa Isyarat Internasional diperingati setiap tanggal 23 September.

Pada tahun ini, peringatan tersebut mengusung tema global "Mendeklarasikan Hak Asasi Manusia bagi Tuli".

Kampanye peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya bahasa isyarat dalam mewujudkan hak asasi manusia bagi komunitas tuli.

Baca juga: Semua elemen diajak komitmen hadirkan ruang aman bagi perempuan-anak

Baca juga: Film "Istimewa" isi layar lebar, angkat kisah anak disabilitas berdaya

Pewarta: Anita Permata Dewi
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |