Gayo Lues (ANTARA) - Sali mengambil tempat paling depan untuk memimpin pengajian. Suaranya tenang mengalun melalui pengeras suara dengan echo yang sengaja diperkuat, menghadirkan nuansa yang mengingatkan pada lantunan imam di Masjidil Haram, Makkah. Dari ruang sederhana itu, ia memandu jamaah memasuki malam dengan khusyuk.
Rutinitas itu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Sali, imam masjid, sekaligus tokoh masyarakat yang dituakan di Desa Tetingi, Kecamatan Pantan Cuaca, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Malam itu, udara pegunungan terasa kian dingin, menyusup di sela dinding papan masjid darurat yang berdiri di tengah permukiman warga.
Dari dalam bangunan tersebut, lelaki berusia 62 tahun itu melantunkan ayat-ayat suci Al Quran sepanjang malam, selama Ramadhan. Suaranya berpadu dengan deru arus sungai, aliran yang tak pernah benar-benar lepas dari ingatan warga sejak banjir bandang melanda desa pada 26 November 2025.
Ingatan itu membawa Sali pada masa beberapa bulan sebelumnya, ketika ia masih berdiri di Masjid Al-Muhsinin yang kokoh dan luas. Masjid itu menjadi pusat kehidupan warga, tempat ibadah, sekaligus ruang pertemuan sosial. Hanya saja, dalam satu malam, bangunan tersebut hilang tersapu arus deras dari hulu pegunungan bersama puluhan rumah warga.
Peristiwa itu meninggalkan luka yang dalam, tetapi tidak memberi ruang bagi Sali untuk berlama-lama larut dalam kesedihan. Sehari, setelah bencana, ia bersama warga mulai kembali mengumandangkan azan dari bangunan seadanya. Dari bale sederhana, hingga akhirnya berdiri masjid darurat, ia memastikan ibadah tetap berjalan.
Perubahan ruang ibadah itu membawa suasana yang berbeda. Jika sebelumnya, Ramadhan berlangsung dalam kelapangan, kini jamaah berkumpul dalam ruang sempit dengan fasilitas terbatas. Keterbatasan tersebut justru menghadirkan ketenangan lain yang lebih sunyi dan bermakna dalam.
Bagi Sali, Ramadhan tahun ini menjadi momentum untuk meneguhkan keyakinan. Ia memaknai bulan suci bukan hanya sebagai waktu menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai kesempatan memperkuat keimanan, terutama di tengah ujian yang belum lama mereka alami.
Keyakinan itu perlahan tumbuh di tengah warga. Malam demi malam, jamaah datang sejak selepas berbuka puasa. Mereka duduk bersila di atas tikar tipis, merapatkan sarung, dan menundukkan kepala dalam doa. Wajah-wajah yang lelah, setelah seharian berjuang memenuhi kebutuhan hidup, perlahan berubah menjadi tenang.
Memasuki 10 malam terakhir Ramadhan, suasana masjid darurat semakin hidup. Sali memimpin rangkaian ibadah panjang, mulai dari shalat Isya, tarawih dan witir 23 rakaat, tilawah Al Quran, hingga tahajud menjelang sahur. Sebagian warga memilih tetap tinggal untuk beriktikaf, memanfaatkan waktu sebaik mungkin dalam ruang yang sederhana.
Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































