Lebaran di tengah isyarat alam

4 days ago 3

Mataram (ANTARA) - Langit di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada pertengahan Maret sering tampak mengelabui. Pagi bisa cerah, siang mendung, lalu hujan turun tiba-tiba menjelang sore.

Di tengah suasana Ramadhan yang memasuki pengujung, ritme alam seperti ini bukan sekadar perubahan biasa. Ia datang bersamaan dengan meningkatnya mobilitas warga, arus mudik, dan geliat wisata yang memuncak menjelang Lebaran.

Di satu sisi, masyarakat bersiap menyambut hari kemenangan. Di sisi lain, alam memberi sinyal agar kewaspadaan tidak diturunkan.

Dalam beberapa hari terakhir, peringatan tentang potensi cuaca ekstrem di NTB muncul berulang kali. Bukan hanya soal hujan, tetapi juga angin kencang, gelombang tinggi, hingga banjir rob yang mengintai wilayah pesisir.

Fenomena ini bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari dinamika musim yang sedang bergerak menuju fase peralihan. Justru di masa transisi inilah risiko sering kali meningkat karena ketidakpastian cuaca yang lebih tinggi.


Risiko ganda

Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa selama periode 16 hingga 22 Maret 2026, NTB berpotensi mengalami cuaca cerah berawan hingga hujan dengan intensitas sedang.

Bahkan, pada beberapa hari awal, hujan dapat disertai petir dan angin kencang, terutama pada siang, hingga malam hari.

Wilayah yang terdampak bukan hanya satu dua titik, melainkan hampir seluruh kawasan strategis di NTB. Dari Lombok Utara hingga Bima, dari kawasan wisata hingga jalur utama mudik, semua berada dalam peta kewaspadaan.

Menariknya, kondisi ini terjadi ketika NTB sebenarnya sudah mulai memasuki fase meredanya hujan lebat. Probabilitas hujan ekstrem memang menurun menjadi sekitar 30, hingga 50 persen, tetapi peluang hujan sedang justru masih tinggi, bahkan mencapai lebih dari 90 persen di sebagian wilayah.

Ini berarti hujan tetap sering terjadi, meski tidak selalu dalam intensitas sangat tinggi.

Situasi ini menciptakan ilusi aman. Banyak orang menganggap ancaman sudah berkurang, padahal frekuensi hujan yang tinggi tetap berpotensi menimbulkan gangguan, terutama jika terjadi secara berulang dalam waktu singkat.

Di wilayah pesisir, ancamannya, bahkan lebih kompleks. BMKG mengingatkan potensi banjir rob akibat pasang maksimum air laut yang dipicu fase bulan baru. Tinggi pasang air laut diperkirakan mencapai sekitar 1,9 meter, cukup untuk menggenangi kawasan dengan elevasi rendah.

Beberapa wilayah, seperti Ampenan, Lembar, hingga Labuhan Lombok di Pulau Lombok, serta sejumlah kawasan di Pulau Sumbawa masuk dalam daftar rawan. Dalam konteks NTB sebagai provinsi kepulauan dengan ratusan pulau kecil, ancaman ini menjadi sangat signifikan.

Kondisi ini semakin krusial karena bertepatan dengan momen Lebaran, ketika aktivitas masyarakat di wilayah pesisir meningkat. Pelabuhan ramai, wisata pantai padat, dan mobilitas antarwilayah bergantung pada transportasi laut.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |