Konflik Iran picu inflasi pangan Turki hingga 20 persen

1 hour ago 2

Antalya (ANTARA) - Inflasi harga pangan di Turki meningkat hingga 20 persen di tengah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran, yang memicu kenaikan biaya energi, logistik, dan pengemasan, demikian laporan harian Turkiye, Senin.

“Sejak perang dimulai, harga buah dan sayuran naik 15–20 persen, dan kenaikan biaya transportasi sangat mengganggu rantai pasok dari petani ke pasar,” kata Ketua Federasi Asosiasi Industri Pangan, Huseyin Bozdag, kepada surat kabar tersebut.

Ia menyebutkan bahwa kenaikan harga terjadi di setiap tahapan distribusi. Produk yang dihargai 8 lira (sekitar 0,18 dolar AS/Rp3.000,-) di tingkat petani bisa mencapai 26 lira (sekitar 0,59 dolar AS/Rp9.900,-) di pasar grosir, dan hingga 50 lira (sekitar 1,14 dolar AS/Rp19.115,-) di rak supermarket.

Bozdag menambahkan tekanan harga diperkirakan akan semakin meningkat dalam waktu dekat.

“Dalam satu hingga satu setengah bulan ke depan, kami memperkirakan inflasi 'dapur' (bahan pangan) akan naik sekitar 20 persen,” ujarnya.

Data industri menunjukkan tantangan tambahan muncul akibat kendala logistik, termasuk yang berkaitan dengan situasi di sekitar Selat Hormuz, yang menghambat akses ke sejumlah wilayah dan meningkatkan biaya pemasok.

Inflasi tahunan Turki tercatat melambat menjadi 30,87 persen pada Maret, menurut Turkish Statistical Institute.

Pada 13 April, Angkatan Laut AS mulai memblokade seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran di kedua sisi Selat Hormuz, jalur strategis yang menyumbang sekitar 20 persen pasokan minyak, produk minyak bumi, dan gas alam cair dunia.

Pemerintah Washington menyatakan bahwa kapal non-Iran tetap dapat melintasi Selat Hormuz selama tidak membayar pungutan kepada Teheran.

Otoritas Iran belum mengumumkan penerapan pungutan tersebut, meski rencana itu telah dibahas.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA

Baca juga: Turki batasi ekspor komoditas makanan imbas perang di Timteng

Baca juga: Iran siap gunakan seluruh kemampuan hadapi peningkatan ancaman AS

Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |