Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pertanian (Kementan) bersama industri pakan menyepakati penundaan kenaikan harga pakan ayam sebagai langkah melindungi peternak ayam petelur dan mempercepat pemulihan harga telur di tingkat produsen.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda mengatakan pihaknya telah mempertemukan koperasi peternak ayam petelur dengan industri pakan guna membahas kenaikan harga pakan yang dikeluhkan peternak di tengah rendahnya harga telur di tingkat produsen.
"Kami berupaya meningkatkan harga telur sesuai harga acuan, termasuk mencari solusi agar di saat harga telur belum sesuai harga acuan ini, pabrik pakan menunda kenaikan harga pakan sampai kondisi harga telur membaik sebagaimana yang kita harapkan," kata Agung dikonfirmasi di Jakarta, Selasa.
Kementan dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama koperasi peternak, industri pakan, Satgas Pangan Polri, BUMN, dan pelaku usaha menyepakati sejumlah langkah konkret untuk memulihkan harga telur dan menjaga keberlanjutan usaha peternak rakyat salah satunya penundaan kenaikan harga pangan.
Menurut Agung, industri pakan memahami kondisi peternak sehingga berkomitmen menunda kenaikan harga pakan sambil menunggu harga telur kembali berada di atas biaya produksi, sebagai bentuk dukungan terhadap keberlangsungan usaha peternak rakyat nasional.
Kenaikan harga bahan baku impor, biaya distribusi, maupun nilai tukar rupiah menjadi faktor yang mempengaruhi biaya produksi industri pakan.
"Teman-teman pabrik pakan juga berkomitmen menahan kenaikan harga pakan. Memang sekitar 30 persen bahan baku pakan masih impor sehingga dipengaruhi kenaikan kurs, biaya distribusi, maupun harga bahan baku dunia," katanya.
Meski demikian, lanjut Agung, produsen pakan menyatakan siap menjaga stabilitas harga sebagai bentuk dukungan terhadap peternak rakyat yang menyumbang sekitar 98 persen produksi telur nasional.
"Mengingat kondisi harga telur yang masih belum baik, para feedmill (pabrik pakan) sepakat menahan dulu kenaikan harga pakan sambil melihat perkembangan harga telur sehingga keberlanjutan peternak rakyat terus terjaga," beber Agung.
Ia menyebutkan harga pakan ternak di pasaran saat ini dilaporkan sangat bervariasi, mulai dari Rp9.000 per kilogram untuk pakan broiler hingga jenis lain yang berkisar antara Rp8.000 sampai Rp9.000 per kg.
Selain itu, terdapat pula pakan yang seharga Rp7.000 per kg, bahkan beberapa jenis lainnya tersedia dengan harga di bawah Rp6.000 per kg.
Oleh karena itu, Agung mendorong agar koperasi-koperasi yang membawahi para peternak langsung membeli pakan dari pabrik pakan.
"Begitu juga bagi yang melakukan pencampuran mandiri (self-mixing), untuk pembelian SBM-nya (Soybean Meal) bisa langsung ke importir, baik swasta maupun BUMN (PT Berdikari). Kami memfasilitasi pembelian langsung agar harganya tidak terlalu mahal dengan memotong jalur distribusi," ucapnya.
Untuk menjaga stabilitas harga ayam, pemerintah juga mempercepat penyaluran jagung pakan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) bagi peternak mikro dan kecil untuk membantu menekan biaya produksi selama harga pakan meningkat.
Selain menjaga biaya produksi, pemerintah mendorong peningkatan penyerapan telur melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar harga di tingkat peternak segera mengalami pemulihan.
Agung menegaskan upaya itu sebagai langkah cepat melindungi peternak ayam petelur di tengah harga telur yang masih berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah Rp26.500 per kilogram.
Baca juga: Mentan dukung inovasi pakan ayam probiotik IPB, siap bawa ke Presiden
Baca juga: Pabrik pakan ayam terintegrasi di Gorontalo Utara direalisasikan
Baca juga: NTB akhiri ketergantungan bibit ayam dan pakan luar daerah
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































