Jakarta (ANTARA) - Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, berpandangan Nahdlatul Ulama (NU) tidak seharusnya terjebak dalam politik praktis, namun tetap memiliki peran strategis dalam kehidupan kebangsaan sebagai kekuatan masyarakat sipil (civil society) yang menjaga persatuan, memperjuangkan kemanusiaan.
“NU tidak bisa lepas dari politik, namun agendanya politik kebangsaan dan kemanusiaan. Hal itu harus melampau segala kepentingan praktis.” kata Gus Kikin dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis.
Gus Kikin menegaskan jabatan dalam NU merupakan amanah, bukan tujuan. Karena itu, kepemimpinan harus dijalankan dengan tanggung jawab dan ketulusan pengabdian.
Baca juga: Prabowo minta papan digital segera dikirim ke sekolah dan pesantren NU
Sikap pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng tersebut sejalan dengan pernyataannya bahwa pencalonannya sebagai calon Ketua Umum PBNU merupakan amanah organisasi, bukan dorongan ambisi pribadi.
“Jabatan itu amanah. Tidak boleh terlalu ambisi terhadap jabatan,” ujarnya.
Menurutnya, NU perlu tetap berpijak pada Qanun Asasi sebagai pedoman organisasi sekaligus menjadikan nilai kemanusiaan (humanitarian) sebagai bagian penting dalam kehidupan NU.
Ia mendorong agar NU menjadi organisasi yang beradab dan mampu menyamakan pandangan dalam menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
Untuk menghadapi tantangan lima tahun ke depan, Gus Kikin menilai NU harus mampu menjadi rumah bagi seluruh warganya. Rumah yang tidak hanya kuat secara kelembagaan dan intelektual, tetapi juga memiliki hati.
Menurutnya, pembangunan manusia harus mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kecerdasan intelektual perlu berjalan bersama karakter, kepedulian, dan kemampuan memahami persoalan kemanusiaan.
Baca juga: Prabowo sampaikan istilah "Jas Hijau" untuk mengenang jasa ulama
Di tengah tantangan global dan berbagai persoalan sosial, NU juga dituntut membangun resiliensi. Karena itu, penguatan hati dan karakter menjadi penting agar masyarakat tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki daya tahan dalam menghadapi perubahan zaman.
“NU harus mempunyai hati. Kita harus memperkuat dan mengasah hati kita,” ujarnya.
Gus Kikin juga menekankan pentingnya melahirkan generasi muta'allim, yakni generasi pembelajar yang memiliki kemampuan intelektual dan kesiapan menghadapi tantangan global. Namun, menurutnya, kecerdasan tersebut harus selalu dibungkus dengan adab.
“Kita harus mempunyai intelegensia, tetapi intelektual itu harus dibungkus dengan adab,” kata Gus Kikin dengan tegas.
Ia mengatakan gagasan tersebut menempatkan NU bukan hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi sebagai kekuatan sosial yang memiliki tanggung jawab dalam kehidupan kebangsaan. Adab menjadi fondasi, ilmu menjadi kekuatan, persaudaraan menjadi perekat, profesionalisme menjadi cara kerja, dan politik kebangsaan menjadi ruang pengabdian NU bagi kemanusiaan dan Indonesia.
Baca juga: Ma'ruf Amin harap Muktamar NU kondusif dan lahirkan pemimpin terbaik
Pewarta: Fianda Sjofjan Rassat
Editor: Fitri Supratiwi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































