Dua sisi Ramadhan di bawah atap Huntara

3 hours ago 3
Di satu sisi senang karena ada kakak yang datang jauh-jauh dari Aceh untuk menemui saya. Tapi, di sisi lain saya juga sedih karena kehilangan anak yang paling disayangi dan istri tercinta

Kabupaten Agam (ANTARA) - Setiap bulan Suci Ramadhan tiba, umat muslim selalu menyambutnya dengan penuh suka cita.

Di Sumatera Barat, satu hari menjelang puasa, masyarakat mulai membeli sejumlah kebutuhan seperti daging sapi, bumbu-bumbu dan sejenisnya untuk dimasak menjadi rendang. Biasanya, kuliner khas Minangkabau ini menjadi masakan pembuka di hari pertama sahur maupun saat berbuka puasa.

Hari pertama Ramadhan merupakan momentum yang paling ditunggu-tunggu karena semua kerabat berkumpul dalam satu rumah untuk menyantap makan sahur dan berbuka bersama.

Namun, kehangatan itu tidak sepenuhnya bisa dirasakan oleh semua orang. Ramadhan 1447 Hijriah menjadi sangat berbeda bagi sebagian orang terutama para penyintas banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera Barat.

Jika selama ini menyantap makan sahur dan berbuka puasa lengkap dengan anggota keluarga besar dilaksanakan di rumah, kini hal itu tidak tidak mereka rasakan terutama bagi mereka yang kehilangan anggota keluarga karena disapu banjir bandang.

Salah satunya dialami oleh Yuni Efnita, warga Jorong Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ramadhan 1447 Hijriah menjadi hal yang paling emosional yang pernah ia lalui selama hidupnya.

Di bulan yang penuh keberkahan, Yuni merasa ada yang tidak lengkap karena ia tak bisa lagi melihat sosok adik perempuan beserta keponakannya yang baru berusia lima tahun. Keduanya turut menjadi korban galodo, begitu masyarakat Minangkabau menyebut banjir bandang.

"Ramadhan tahun ini, hati saya sangat sedih," kata Yuni sambil meneteskan air matanya.

Yuni Efnita mengusap air matanya saat menceritakan perjuangannya pada satu Ramadhan di huntara SD Negeri 05 Kayu Pasak, Kabupaten Agam, Kamis (19/2/2026). Antara/Fandi Yogari

Sejak menetap di tempat hunian sementara (Huntara) SD Negeri 05 Kayu Pasak, Yuni selalu bersedih ketika melihat kedua keponakannya yang kini sudah tidak mempunyai Ibu kandung. Kesedihannya semakin mendalam bilamana menyaksikan kedua bocah malang itu harus ditinggal pergi ayahnya yang harus pergi bekerja. Bahkan, kerap Yuni menyaksikan langsung keponakannya selalu menangis saat ayahnya pergi bekerja.

"Iba hati saya melihat anak-anaknya setiap bertemu. Apalagi ini suasana bulan Suci Ramadhan," ujarnya yang tak hentinya meneteskan air mata.

Di saat bersamaan, Yuni juga harus selalu menjawab setiap pertanyaan yang datang berulang dari buah hatinya, kenapa kehidupan mereka berubah total dan harus menetap di Huntara yang sangat sederhana itu.

"Anak-anak sering bertanya kenapa kondisinya seperti ini," kata dia.

Setiap pertanyaan yang dilontarkan buah hatinya, setiap itu pula ia meneteskan air mata. Sebagai seorang Ibu, ia terus berusaha menjelaskan sesederhana mungkin kepada ketiga buah hatinya.

Baca juga: Penyintas banjir bandang di Agam suka cita sambut Ramadhan di huntara

Baca juga: Penyintas bencana tanah bergerak Tapsel buka puasa pertama di huntara

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |