Jakarta (ANTARA) - Seorang guru meminta murid-muridnya menjelaskan dampak perubahan iklim. Dua puluh tahun lalu, kemungkinan besar mereka akan membuka buku, membaca beberapa halaman, lalu menuliskan jawabannya dalam bentuk esai.
Saat ini, situasinya berbeda. Banyak murid terlebih dahulu mencari video di YouTube, membaca infografik di media sosial, mengamati visualisasi data cuaca, atau menanyakan persoalan tersebut kepada aplikasi kecerdasan artifisial (AI).
Mereka kemudian membandingkan dan merangkai informasi yang diperoleh dari berbagai sumber tersebut, sebelum menyusun jawabannya. Mereka tidak hanya membaca teks, tetapi juga membaca gambar, grafik, animasi, video, serta berinteraksi dengan sistem AI yang menghasilkan teks, gambar, atau penjelasan secara otomatis.
Dalam banyak kasus, tantangan murid masa kini bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kemampuan mengevaluasi keakuratan, kredibilitas, dan relevansi informasi yang diperoleh, termasuk informasi yang dihasilkan oleh AI.
Perubahan sederhana itu sesungguhnya menggambarkan transformasi besar dalam dunia literasi. Selama ini, literasi hampir selalu dikaitkan dengan kemampuan membaca dan menulis teks. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah karena membaca dan menulis memang merupakan fondasi utama pendidikan.
Baca juga: Mempertemukan Malin Kundang dan kecerdasan artifisial
Namun, di era digital, pemahaman tersebut tidak lagi memadai. Cara manusia memperoleh, mengolah, dan menyampaikan informasi telah berubah secara mendasar. Karena itu, konsep literasi pun perlu diperluas dari literasi teks menuju literasi multimodal.
Istilah multimodal merujuk pada penggunaan berbagai moda atau saluran komunikasi untuk membangun makna. Dalam kehidupan sehari-hari, kita jarang berhadapan dengan teks semata. Sebuah berita di media daring biasanya memadukan tulisan, foto, grafik, video, dan tautan ke sumber lain.
Sebuah presentasi memadukan bahasa lisan, teks, gambar, dan animasi. Bahkan, percakapan di media sosial sering kali mengombinasikan kata-kata dengan emoji, foto, atau video pendek.
Dalam konteks demikian, kemampuan membaca tidak lagi cukup dipahami sebagai kemampuan memahami teks tertulis. Seseorang juga harus mampu memahami pesan yang disampaikan melalui gambar, diagram, grafik, video, maupun bentuk visual lainnya.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































