Buku baru pemicu mimpi astronot dari Pasir Buncir

2 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Matahari perlahan merangkak naik, mengusir kabut pagi yang menyelimuti kawasan lereng di Desa Pasir Buncir, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Udara sejuk khas pegunungan masih sangat terasa ketika puluhan anak berkumpul di sudut sebuah pelataran sederhana. Perhatian mereka tersita pada tumpukan benda berbentuk persegi panjang yang baru saja tiba di kampung mereka.

Di antara kerumunan itu, Faeyza Kenzie (8) tampak membolak-balikkan halaman sebuah buku bergambar dengan mata berbinar. Jemari mungil siswa kelas 2 sekolah dasar tersebut meraba sampul yang masih kaku dan licin, seolah memastikan benda di pangkuannya adalah nyata.

Tidak jauh darinya, Muhammad Nasir (11), siswa kelas 5 SD Cinagara 03, ikut mencondongkan badan. Keduanya tengah asyik mengamati gambar rasi bintang dan pesawat luar angkasa yang tercetak jelas di atas kertas baru. Saat ditanya apa cita-cita mereka kelak, dengan kompak dan suara lantang mereka menjawab, "Ingin jadi astronot."

Mimpi melanglang buana ke luar angkasa itu terdengar begitu megah. Namun, keseharian yang harus dilewati oleh Faeyza, Nasir, dan puluhan kawan sebayanya justru menuntut daya juang ekstra. Jangankan untuk membayangkan teknologi roket peluncur, untuk bisa sekadar mengakses pendidikan dasar yang memadai saja, mereka harus bersahabat dengan kontur alam pegunungan yang menantang.

Faeyza dan Nasir adalah gambaran kecil dari tunas-tunas muda yang tumbuh di Kampung Wangun Jaya dan Kampung Mekar Jaya. Keduanya merupakan bagian dari wilayah administratif Desa Pasir Buncir. Di permukiman ini, terdapat sekitar 350 kepala keluarga (KK) yang menggantungkan hidup sehari-hari. Di balik keasrian alamnya yang menyejukkan mata, wilayah ini menyimpan tantangan tersendiri, terutama dalam hal mendekatkan akses pendidikan dasar bagi warganya.

Despi Hermawati, seorang kader desa yang sehari-hari mendampingi tumbuh kembang anak-anak di kedua kampung tersebut menuturkan kondisi keseharian yang sudah berlangsung sejak lama. Untuk mencapai gedung sekolah dasar yang berlokasi di dekat jalan utama desa, anak-anak harus berjalan kaki menempuh jarak sekitar dua kilometer. Perjalanan itu bukan menyusuri trotoar mulus, melainkan melewati jalan setapak yang sempit, menukik, berkelok, dan tidak memungkinkan untuk dilalui oleh kendaraan roda empat.

Kondisi tersebut akan semakin membutuhkan ketangguhan, ketika anak-anak ini beranjak remaja. Jarak menuju sekolah menengah pertama (SMP) terdekat bisa mencapai hingga dua kali lipat dari jarak menuju SD. Perjalanan panjang setiap hari dengan akses mobilitas yang terbatas tentu membutuhkan ketahanan fisik dan mental yang kuat. Tantangan akan semakin berlapis bagi mereka yang berniat melanjutkan ke jenjang sekolah menengah atas (SMA), mengingat lokasinya berada di kecamatan lain dengan jarak tempuh yang jauh lebih panjang.

Keterbatasan infrastruktur dan jauhnya titik akses pendidikan ini, pada gilirannya, pelan-pelan ikut memengaruhi dinamika sosial di tengah masyarakat. Kelelahan fisik anak serta biaya transportasi yang harus disiapkan membuat sebagian orang tua merasa kesulitan untuk menyekolahkan anak mereka hingga jenjang yang lebih tinggi.

Menurut Despi, minimnya keterjangkauan akses pendidikan dasar hingga menengah ini memicu rantai efek yang menyentuh tingkat literasi warga. Tantangan sosiologis yang paling kentara adalah bergesernya pandangan sebagian masyarakat tentang masa depan anak muda setempat.

Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |