BRIN kembangkan varietas unggul perkuat produktivitas kakao nasional

3 weeks ago 19

Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan varietas unggul kakao berproduktivitas tinggi, tahan hama dan penyakit, serta adaptif terhadap berbagai lingkungan guna memperkuat produktivitas dan keberlanjutan kakao nasional.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN Prof Rubiyo mengatakan inovasi bahan tanam perlu diarahkan agar sesuai dengan kebutuhan pekebun dan mudah diterapkan di berbagai sentra produksi kakao Indonesia.

“Inovasi teknologi yang mudah diadopsi oleh masyarakat kakao Indonesia,” kata Rubiyo dalam diskusi panel Regional Learning Forum on Sustainable Commodities di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, pengembangan varietas unggul menjadi salah satu fondasi peningkatan produksi karena karakter bahan tanam turut menentukan potensi hasil, ketahanan terhadap gangguan tanaman, serta kemampuan kakao beradaptasi dengan lingkungan.

BRIN mengarahkan pemuliaan kakao untuk memperoleh varietas dengan produktivitas sekitar 2-3 ton biji kering per hektare per tahun, mutu yang baik, ketahanan terhadap hama dan penyakit, serta adaptabilitas tinggi.

Pengembangan bahan tanam dilakukan melalui serangkaian tahapan, mulai dari pengumpulan sumber daya genetik dan plasma nutfah, pemilihan tetua, persilangan, seleksi klon atau hibrida, hingga pengujian untuk memperoleh varietas dengan karakter yang diharapkan.

Rubiyo mengatakan secara umum satu siklus pemuliaan kakao hingga menghasilkan bahan tanam unggul dapat membutuhkan waktu sekitar 15-20 tahun karena kandidat varietas harus melalui proses seleksi dan pengujian. Namun, ia tidak merinci sudah sejauh mana tahapan riset yang saat ini dilakukan.

“Itu panjangnya kurang lebih 15 sampai 20 tahun,” ujar dia saat menjelaskan tahapan untuk memperoleh bahan tanam kakao unggul.

Pemuliaan tersebut juga memanfaatkan pendekatan molekuler untuk mempelajari keragaman dan jarak genetik sehingga peneliti dapat menentukan kombinasi tetua yang berpotensi menghasilkan keturunan dengan karakter unggul.

Rubiyo mengatakan kemampuan adaptasi menjadi salah satu aspek penting dalam pemuliaan kakao karena kinerja suatu klon dapat berbeda ketika dibudidayakan pada kondisi lingkungan yang berlainan.

Masamba Cocoa Clone (MCC) 01 dan MCC 02 merupakan klon unggul kakao yang digunakan sebagai bahan tanam. Perbedaan kinerja pada setiap wilayah, menurut Rubiyo, menunjukkan pentingnya menyesuaikan varietas dengan kondisi lingkungan di masing-masing sentra produksi.

“Kalau klon kayak MCC 01, 02 itu sangat spesifik. Dan kalau ditanam di Sulawesi berbeda hasilnya dengan kalau di Sumatera,” ujar dia.

Karena itu, menurut dia, peningkatan produktivitas perlu berjalan beriringan dengan pemilihan bahan tanam yang sesuai dengan karakter wilayah tempat kakao dikembangkan.

BRIN juga mengembangkan bahan tanam kakao melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.

Ia mengatakan sinergi antara lembaga riset, industri, dan pemangku kepentingan diperlukan untuk menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan di lapangan.

“Kolaborasi riset ini penting,” ujar dia.

Menurut Rubiyo, penelitian juga harus mempertimbangkan kebutuhan pekebun, produsen, konsumen, hingga industri agar teknologi yang dihasilkan tidak berhenti pada tahap riset, tetapi dapat digunakan secara berkelanjutan.

“Kalau inovasi hanya datang dari peneliti itu pasti akan digendong peneliti sendiri,” ujar dia.

Ia menilai penguatan riset kakao memiliki arti strategis karena komoditas tersebut menjadi sumber pendapatan dan lapangan kerja bagi masyarakat sekaligus berkontribusi terhadap penerimaan devisa Indonesia.

Pengembangan varietas unggul juga sejalan dengan upaya pemerintah meningkatkan produktivitas perkebunan kakao.

Data Kementerian Pertanian mencatat luas areal kakao nasional sekitar 1,37 juta hektare dengan produktivitas rata-rata sekitar 715 kilogram per hektare per tahun.

Pada 2026, Kementerian Pertanian menargetkan pengembangan kakao seluas 174.260 hektare melalui penyediaan benih untuk peremajaan tanaman dan perluasan areal.

Rubiyo menilai inovasi teknologi yang dapat diterapkan masyarakat menjadi kunci agar peningkatan produktivitas berjalan berkelanjutan dan memberikan manfaat lebih besar kepada pekebun.

Pengembangan bahan tanam yang produktif, tahan gangguan tanaman, dan sesuai dengan kondisi sentra produksi diharapkan memperkuat pasokan kakao nasional, meningkatkan daya saing, serta memperbesar manfaat ekonomi bagi pekebun rakyat.

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |