ASAKI siapkan rencana investasi Rp5 T pacu produksi industri keramik

3 weeks ago 19

Jakarta (ANTARA) - Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) menyiapkan rencana investasi baru senilai Rp5 triliun pada 2026 sebagai upaya memacu peningkatan kapasitas dan membuka lapangan kerja.

Ketua Umum ASAKI Edy Suyanto dalam pernyataan yang dikonfirmasi di Jakarta, Rabu, mengatakan lewat rencana investasi itu industri keramik nasional optimistis dapat mencapai utilisasi produksi hingga 80 persen pada 2026, tertinggi dalam satu dekade terakhir.

Dari sisi kapasitas, ASAKI memproyeksikan kapasitas terpasang ubin keramik nasional terus meningkat. Pada 2026, kapasitas terpasang diperkirakan mencapai 672 juta meter persegi per tahun, meningkat menjadi 701 juta meter persegi per tahun pada 2027, dan menyentuh 720 juta meter persegi per tahun pada 2029.

Edy yang terpilih kembali menjadi Ketua Umum ASAKI periode 2026-2029 turut menyebut bahwa industri keramik nasional berencana melakukan ekspansi kapasitas produksi sebesar 70 juta meter persegi per tahun, serta penyerapan sekitar 3.500 tenaga kerja baru.

Target itu, menurut dia, dinilai realistis seiring dukungan kebijakan pemerintah, peningkatan kapasitas terpasang, serta prospek pertumbuhan konsumsi domestik yang masih terbuka lebar.

“Target ini realistis dengan catatan dukungan kebijakan pemerintah tetap konsisten dan persoalan struktural industri segera diselesaikan,” ujar Edy


Lebih lanjut ia mengatakan asosiasi menilai kebangkitan industri keramik tidak terlepas dari berbagai kebijakan strategis pemerintah, mulai dari penerapan Bea Masuk Antidumping dan safeguard keramik, pemberlakuan SNI wajib, program pembangunan 3 juta unit rumah, insentif PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) sektor properti, penurunan suku bunga perbankan, hingga program FLPP sebanyak 350.000 unit rumah.

Berbagai kebijakan tersebut diyakini mampu mendongkrak permintaan keramik domestik secara signifikan.

Meski demikian, lanjutnya, tingkat konsumsi keramik per kapita di Indonesia masih relatif rendah. Pada 2029, konsumsi diperkirakan baru mencapai 2,5 meter persegi per kapita, tertinggal dibandingkan China dan Vietnam yang berada di kisaran 4 meter persegi per kapita, serta Malaysia dan Thailand sekitar 3–3,5 meter persegi per kapita.

“Artinya, ruang ekspansi industri keramik nasional masih sangat besar,” ujar Edy.

Di tengah peluang tersebut, ia mengatakan asosiasi juga mencatat sejumlah tantangan yang masih membayangi industri, seperti keterbatasan pasokan gas dan lonjakan impor keramik.

ASAKI mencatat sepanjang 2025, impor dari India naik 55 persen, Vietnam meningkat 32 persen, dan Malaysia melonjak hingga 210 persen.

"Kami akan bekerja sama dengan KADI untuk menginisiasi penyelidikan damping terhadap India pada semester I 2025, serta menelusuri dugaan transhipment produk China melalui Malaysia," katanya.

Selain itu, ASAKI juga menyoroti persoalan pasokan bahan baku tanah liat akibat pencabutan izin tambang di Jawa Barat, serta mendorong percepatan kebijakan pemindahan pintu masuk impor ke luar Pulau Jawa guna melindungi industri dalam negeri.

“Dengan sinergi kuat antara pemerintah dan pelaku industri, kami yakin industri keramik nasional tidak hanya bangkit, tetapi juga menjadi pemain utama di kawasan,” kata Edy.

Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |