Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan resmi memperkuat kerja sama strategis utamanya dalam pengelolaan hutan berkelanjutan dan penanganan kebakaran hutan.
Kolaborasi bilateral ini ditandai dengan penandatanganan dua dokumen kerja sama antara Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni dan Menteri Kehutanan Korea (KFS) Park Eunsik, di Seoul, Korea Selatan, Rabu.
“Penandatanganan kerja sama Kemenhut-KFS merupakan diplomasi hijau dari rangkaian kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto dalam rangka mempererat hubungan bilateral Indonesia dan Republik Korea, khususnya dalam mendorong kerja sama strategis di sektor kehutanan,” kata Menhut Raja Antoni dalam keterangannya yang diterima di Jakarta.
Adapun dokumen pertama yang ditandatangani adalah “Kerangka Kerja Sama dalam Program Prioritas di Bidang Kehutanan” atau “Framework Arrangement on Cooperation on Priority Program in Forestry”.
Baca juga: Legislator: Jangan ada lagi petugas pemadam karhutla yang gugur
“Ini menjadi payung kerja sama strategis kedua negara dalam mendukung upaya penanganan perubahan iklim melalui sektor kehutanan, termasuk pengelolaan hutan lestari, rehabilitasi mangrove dan gambut, pengembangan ekowisata, perhutanan sosial, hingga penguatan pasar karbon hutan,” kata Raja Antoni.
Lebih lanjut, dokumen kedua adalah nota kesepahaman (MoU) Kerja Sama Pengelolaan Kebakaran Hutan dan Pemulihan Pasca Kebakaran yang secara khusus mendorong kerja sama dalam pencegahan, kesiapsiagaan, respons, serta pemulihan pascakebakaran hutan.
“Ini termasuk pemanfaatan teknologi seperti pemantauan berbasis satelit dan penguatan kapasitas sumber daya manusia,” kata Menhut.
Sementara itu, Menteri Park menyampaikan bahwa Kemenhut merupakan mitra paling strategis bagi KFS.
Baca juga: Anggota Komisi IV DPR minta Kemenhut-pemda perkuat koordinasi cegah karhutla
Ia mengatakan, perwakilan kehutanan Korea di luar negeri saat ini hanya ditempatkan di Kedutaan Besar Republik Korea di Jakarta, yang menunjukkan pentingnya Indonesia dalam kerja sama kehutanan Korea.
KFS juga menyampaikan rencana peluncuran satelit pemantauan kebakaran hutan pada September 2026 yang mampu melakukan pemantauan secara real time, termasuk menjangkau hingga sekitar 55 persen wilayah Indonesia.
Menanggapi hal tersebut, Menhut Raja Antoni menyampaikan keyakinannya bahwa kerja sama ini akan memberikan manfaat signifikan bagi Indonesia, khususnya dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan.
Ia memandang kerja sama ini sangat relevan, terutama dalam menghadapi potensi fenomena El Nino yang diproyeksikan terjadi pada Juni 2026.
Baca juga: Lanud RSA Natuna aktifkan posko udara dukung penanganan karhutla
Kedua negara juga sepakat untuk mendorong implementasi kerja sama melalui berbagai bentuk kegiatan, antara lain pertukaran pengetahuan dan teknologi, pengembangan proyek bersama, pelatihan dan peningkatan kapasitas, serta penguatan jejaring kelembagaan melalui mekanisme Joint Consultation Committee.
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































