Xi Jinping ke Trump: Mampukah China-AS hindari Jebakan Thucydides?

3 hours ago 3

Beijing (ANTARA) - Presiden China Xi Jinping saat bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing, Kamis (14/5), menekankan pentingnya membangun hubungan China-AS yang stabil dan menghindari “Jebakan Thucydides.”

"Mampukah China dan Amerika Serikat lolos dari 'Jebakan Thucydides' dan menciptakan paradigma baru hubungan negara-negara besar? Dapatkah kita menghadapi tantangan global bersama dan memberikan stabilitas yang lebih besar bagi dunia? kata Presiden Xi saat bertemu dengan Presiden Trump di Balai Besar Rakyat, Beijing, Kamis (14/5) seperti dalam laman resmi Kementerian Luar Negeri China.

Jebakan Thucydides merujuk pada situasi genting ketika kekuatan besar (atau negara) yang sedang naik daun dianggap mengancam untuk menggantikan kekuatan yang sudah mapan sehingga situasi tersebut secara historis sering menyebabkan perang.

Dalam hal ini, rujukan itu dapat dimaknai seiring terus meningkatnya kekuatan China yang dianggap menantang kepemimpinan global AS.

Thucydides sendiri adalah sejarawan Yunani kuno dan menulis buku "Sejarah Perang Peloponnesia" yang menceritakan perang antara Athena dan Sparta pada abad ke-5 SM. Karyanya itu disebut sebagai analisis politik dan moral pertama soal perang antarbangsa sehingga ia dianggap sebagai bapak sejarah ilmiah dan realisme politik.

"Ini adalah pertanyaan-pertanyaan penting bagi sejarah, bagi dunia, dan bagi publik. Ini adalah pertanyaan-pertanyaan zaman yang kita sebagai pemimpin negara-negara besar perlu jawab bersama," ujar Xi.

Ia pun mengaku siap bekerja sama dengan Trump untuk menentukan arah dan mengarahkan kapal raksasa hubungan China-AS sehingga menjadikan tahun 2026 sebagai tahun bersejarah dan penting yang membuka babak baru dalam hubungan China-AS.

Presiden Xi juga menekankan bahwa China berkomitmen dalam pengembangan hubungan China-AS yang stabil, baik, dan berkelanjutan.

"Saya telah sepakat dengan Presiden Trump tentang visi baru untuk membangun hubungan China-AS yang konstruktif dan stabil secara strategis. Ini akan memberikan panduan strategis untuk hubungan China-AS selama tiga tahun ke depan dan seterusnya, dan akan diterima dengan baik oleh rakyat kedua negara dan komunitas internasional," ucap Xi.

"Stabilitas strategis yang konstruktif", menurut Xi, berarti stabilitas positif dengan kerja sama sebagai landasan, stabilitas yang sehat dengan persaingan dalam batas yang wajar, stabilitas konstan dengan perbedaan yang dapat dikelola, dan stabilitas yang langgeng dengan perdamaian yang dapat diharapkan.

Presiden Xi mencatat bahwa hubungan ekonomi dan perdagangan China-AS saling menguntungkan dan bersifat saling menguntungkan.

"Jika terdapat perbedaan pendapat dan gesekan, konsultasi yang setara adalah satu-satunya pilihan yang tepat. Kemarin, tim ekonomi dan perdagangan kita menghasilkan hasil yang umumnya seimbang dan positif. Ini adalah kabar baik bagi rakyat kedua negara dan dunia," jelas Xi.

Xi menyebut kedua negara harus bersama-sama mempertahankan momentum baik yang telah kita upayakan dengan keras untuk ciptakan.

"China hanya akan membuka pintunya lebih lebar. Bisnis-bisnis AS sangat terlibat dalam reformasi dan keterbukaan China. China menyambut baik kerja sama yang lebih saling menguntungkan dari AS," tegas Xi.

Baca juga: AS ingin China lebih aktif hentikan upaya Iran di Teluk Persia

Baca juga: Xi ke Trump: AS-China bisa bentrok jika isu Taiwan tak tepat ditangani

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |