Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menegaskan kemampuan berpikir kritis adalah pertahanan utama bagi anak-anak pada era banjir informasi dan maraknya konten hoaks yang dibuat oleh teknologi kecerdasan artifisial (AI).
"Kemampuan memilah, menganalisis, dan memverifikasi informasi menjadi keterampilan yang paling berharga. Ini kunci membuat kita waras dan sehat di dunia digital, bukan hanya sebagai penerima pasif," ujar Nezar dalam Forum Saling Jaga Tunas Bangsa di Tangerang Selatan, Selasa.
Menurutnya, orang tua harus membangun fondasi berpikir kritis sejak dini agar anak tidak mudah teperdaya oleh konten yang tampak meyakinkan namun faktanya salah.
Untuk melatih keterampilan tersebut, Nezar merujuk pada strategi riset dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang terdiri dari tiga tahap, yaitu Learn, Evaluate, dan Reflect.
Tahap Learn menekankan pentingnya anak memiliki basis pengetahuan kuat melalui buku dan diskusi dunia nyata agar cakrawala mereka tidak terbatas pada algoritma media sosial.
Tahap selanjutnya adalah Evaluate, yakni membangun skeptisisme sehat dengan mengajukan pertanyaan kritis terhadap setiap klaim yang dilihat.
Sementara tahap Reflect menjadi krusial untuk mengidentifikasi "realitas sintetis" yang diciptakan oleh AI, seperti teknologi deepfake.
Baca juga: Hoaks! Foto wanita menyamar jadi pramugari Batik Air diterima di Garuda Indonesia
"Realitas sintetis yang dibangun mesin ini tidak autentik. AI bisa membuat deepfake yang nyaris tidak bisa dibedakan, bahkan memanipulasi foto wajah menjadi konten pornografi atau alat untuk perundungan (bullying) di kalangan anak-anak. Ini bahaya yang sangat nyata," jelasnya.
Nezar juga menyoroti fenomena "defisit pertanyaan" di kalangan generasi muda. Ia menilai saat ini kemampuan mengajukan pertanyaan atau menggugat sebuah informasi jauh lebih penting daripada kemampuan memberikan jawaban.
"Kita lebih banyak menerima daripada melakukan gugatan terhadap apa yang disajikan. Karena itu, pertanyaan kritis harus terus dilatih agar anak-anak kita menjadi digital citizens yang tangguh," tambahnya.
Nezar menegaskan, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) terus berkomitmen menciptakan ekosistem digital yang aman melalui regulasi dan edukasi.
Upaya ini selaras dengan slogan Kemkomdigi, yakni Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga, guna memastikan ruang digital Indonesia tetap berdaulat dan ramah bagi tumbuh kembang anak.
Baca juga: Wamenkomdigi sebut keamanan siber jadi jaminan perlindungan data
Baca juga: Perpusnas dukung literasi di Sekolah Rakyat via anjungan baca digital
Pewarta: Farhan Arda Nugraha
Editor: Indriani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































