Jakarta (ANTARA) - PT Multi Harapan Utama (MHU) melakukan uji coba penggunaan truk angkut listrik (EV hauling truck) di area operasional tambangnya di Loa Kulu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, yang memberikan efisiensi biaya operasional hingga 40 persen.
Inisiatif tersebut merupakan bagian dari komitmen MHU, anak perusahaan MMS Group Indonesia (MMSGI), untuk memperkuat penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), serta mendorong operasional tambang yang lebih efisien energi dan beremisi lebih rendah.
Presiden Direktur MHU, Kemal Djamil Siregar dalam pernyataan di Jakarta, Selasa (27/1) menegaskan bahwa uji coba truk angkut listrik itu merupakan bagian dari kesinambungan strategi ESG perusahaan.
“Penerapan teknologi hybrid melalui HYDRUM menjadi fondasi awal dalam transformasi operasional kami. Uji coba truk angkut listrik ini merupakan milestone lanjutan untuk mengevaluasi kesiapan teknologi EV sebagai bagian dari transisi energi yang dilakukan secara bertahap dan terukur,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa seluruh inisiatif tersebut dijalankan dengan tetap menjaga keselamatan kerja, keandalan operasi, dan kesinambungan produksi.
Uji coba dilakukan pada Sabtu (24/1) menggunakan Truk Angkut Listrik SANY di area site tambang untuk memperoleh gambaran kinerja sesuai kondisi kerja aktual.
Secara teknis, pengujian difokuskan pada kinerja pengangkutan, ketahanan unit terhadap medan operasional, serta kesesuaian jam kerja dengan kebutuhan produksi.
Seluruh proses evaluasi dilakukan berbasis data dan pengalaman lapangan guna memastikan teknologi yang diuji mampu mendukung operasional tambang secara aman dan andal.
Kepala Teknik Tambang MHU, Aris Subagyo, menjelaskan bahwa uji coba tersebut merupakan bagian dari pendekatan teknis yang dilakukan secara cermat dan terukur.
“Uji coba Truk Angkut Listrik SANY kami lakukan langsung di area tambang untuk menilai performa hauling, ketahanan unit, serta jam kerja aktual dalam kondisi operasional yang sebenarnya,” ujarnya.
Menurut Aris, penerapan teknologi baru di sektor pertambangan harus melalui evaluasi menyeluruh sebelum diimplementasikan secara luas.
“Hasil uji coba ini akan menjadi dasar teknis dalam pengambilan keputusan ke depan, dengan tetap mengutamakan aspek keselamatan dan keandalan operasi," katanya.
Baca juga: MMSGI raih penghargaan berkat strategi bisnis berkelanjutan
Baca juga: MHU raih Proper Hijau kedua berkat komitmen menerapkan keberlanjutan
Baca juga: Geely akan bawa dua submerek baru untuk pasar Indonesia
Dari sisi biaya, hasil kajian menunjukkan bahwa dengan asumsi umur pakai empat tahun atau sekitar 16.000 jam kerja, total biaya siklus dump truck diesel MB4845K mencapai sekitar Rp11,11 miliar atau Rp690.800 per jam.
Sementara itu, EV dump truck mencatat total biaya siklus sekitar Rp6,71–7,15 miliar atau setara Rp423.900–439.600 per jam. Perbandingan tersebut mencerminkan potensi efisiensi biaya operasional hingga sekitar 40 persen.
Truk listrik yang diuji coba merupakan SANY 445 ev dump truck dengan konfigurasi penggerak 8x4, sistem baterai charging dan swapping, motor listrik berdaya hingga 460 kW, torsi 2.900 Nm, serta baterai CATL berkapasitas 400 kWh. Unit ini juga dilengkapi sistem pengisian daya 360 kW serta fitur keselamatan dan kenyamanan untuk mendukung operasional tambang.
Secara operasional, MHU dinilai memiliki prasyarat yang mendukung pengembangan elektrifikasi, antara lain akses terhadap pasokan listrik PLN yang memadai serta proyeksi umur tambang jangka panjang.
Kondisi tersebut membuka peluang optimalisasi efisiensi biaya sekaligus penguatan aspek keberlanjutan dalam jangka menengah dan panjang.
Uji coba truk listrik ini merupakan kelanjutan dari penerapan teknologi hybrid melalui inovasi HYDRUM (Hybrid Dumptruck for Responsible Energy Use in Mining) yang telah dijalankan MHU sejak awal 2025.
Program tersebut dikembangkan untuk merespons tingginya konsumsi bahan bakar armada off-highway truck yang sebelumnya mencapai rata-rata 26,7 juta liter per tahun.
Melalui teknologi hybrid, MHU berhasil menurunkan konsumsi bahan bakar dari 68 liter per jam menjadi 36,70 liter per jam atau sekitar 46 persen, melampaui target awal sebesar 30 persen.
Selama periode Februari hingga Juni 2025, HYDRUM menghasilkan penghematan bahan bakar sebesar 1,22 juta liter, efisiensi biaya sekitar Rp19,9 miliar, serta penurunan emisi sebesar 3.067,9 ton CO₂e.
Baca juga: China miliki jaringan pengisian daya mobil listrk terbesar di dunia
Baca juga: China operasikan jaringan pengisian daya kendaraan listrik terbesar
Baca juga: PLN Malang dirikan SPKLU Center dukung ekosistem kendaraan listrik
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Indra Arief Pribadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































