Kementan perkuat irigasi untuk jaga produksi beras saat cuaca ekstrem

4 hours ago 5

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat penguatan infrastruktur jaringan irigasi pada awal 2026 untuk mengantisipasi tingginya curah hujan atau cuaca ekstrem, sebagai upaya menjaga stabilitas produksi beras nasional.

"Di tengah meningkatnya risiko cuaca ekstrem di sejumlah sentra pangan, penguatan tata kelola air, mulai dari jaringan irigasi, drainase, hingga pengendalian genangan lahan didorong sebagai pendukung peningkatan produktivitas," kata Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Ditjen LIP) Kementan Hermanto di Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan percepatan program Cetak Sawah Rakyat (CSR) menjadi bagian dari kebijakan penguatan infrastruktur air pertanian untuk menjaga produksi beras di tengah dinamika iklim.

Menurut dia, pula sinergi lintas kementerian diperlukan agar pembangunan lahan baru berjalan tepat waktu dan berbasis data iklim yang akurat.

Hermanto juga mengapresiasi dukungan Kementerian Pekerjaan Umum dalam penanganan wilayah yang menghadapi kekeringan maupun kekurangan air sebagai bagian dari penguatan infrastruktur pertanian nasional.

Ia menekankan pula pentingnya kolaborasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam menyediakan data iklim akurat sebagai dasar pengambilan keputusan teknis di lapangan.

“Kami membutuhkan justifikasi berbasis ilmiah dari data deret waktu curah hujan BMKG sebagai acuan percepatan penyelesaian target cetak sawah,” ujar dia.

Berdasarkan prakiraan BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia pada 2026 diprediksi mengalami curah hujan tahunan 1.500–4.000 milimeter (mm), dengan sekitar 5,1 persen wilayah berada pada kategori di atas normal. Kondisi ini menuntut kesiapan infrastruktur irigasi dan sistem tata air pertanian yang lebih andal dan adaptif.

Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG Marjuki menjelaskan dalam periode 1981–2024 terjadi variasi tren curah hujan tahunan di berbagai wilayah Indonesia.

Penurunan signifikan terjadi di sebagian Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara. Sementara peningkatan curah hujan terjadi di sebagian Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

Pada Februari hingga Maret 2026, curah hujan bulanan secara umum diprediksi berada pada kategori menengah hingga tinggi, dengan potensi hujan sangat tinggi di sebagian Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, serta sebagian kecil Papua Tengah.

Ia menambahkan dinamika atmosfer awal tahun berpotensi memicu hujan lebat berdurasi singkat yang meningkatkan risiko banjir dan genangan lahan.

“Informasi iklim ini menjadi dasar penting dalam pengaturan pola tanam dan pengelolaan tata air agar dampak negatif hujan ekstrem dapat ditekan,” kata Marjuki.

Sementara itu, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan pengelolaan air menjadi kunci utama menjaga produktivitas pertanian di tengah perubahan iklim.

“Curah hujan yang tinggi harus kita kelola sebagai berkah. Melalui penguatan irigasi, perbaikan drainase, dan tata air lahan yang tepat, produksi padi tetap dapat terjaga dan bahkan ditingkatkan,” ujar Amran.

Ia memastikan produksi pangan nasional tetap aman meskipun dihadapkan pada cuaca ekstrem.

“Negara hadir melindungi petani dan memastikan keberlanjutan pertanian nasional sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan dan kesejahteraan petani,” katanya menegaskan.

Melalui percepatan pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur irigasi, pemerintah menargetkan peningkatan indeks pertanaman serta stabilitas produksi beras di berbagai sentra pangan.

Penguatan tata air itu diharapkan mampu melindungi lahan pertanian dari risiko banjir maupun kekeringan, sekaligus meningkatkan produktivitas padi secara berkelanjutan.

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |