Jakarta (ANTARA) - Survei arus mudik Lebaran 2026 yang dilakukan NEXT by ANTARA menunjukkan integrasi antarmoda di stasiun kereta api semakin optimal, namun penggunaan teknologi face recognition untuk proses boarding penumpang masih rendah karena mayoritas pengguna masih memilih metode manual.
Direktur Komersil, Pengembangan Bisnis dan TI ANTARA Rachmat Hidayat mengatakan temuan tersebut menggambarkan dinamika dalam adopsi teknologi oleh masyarakat pengguna transportasi.
“Integrasi antarmoda yang semakin kuat menunjukkan bahwa upaya kolaborasi ekosistem transportasi berjalan efektif. Namun, penurunan penggunaan 'face recognition' menjadi sinyal bahwa adopsi teknologi tetap perlu diiringi dengan peningkatan kenyamanan, kepercayaan dan kemudahan bagi pengguna,” ujar Rachmat dalam keterangan resmi pada Senin.
Dalam survei tersebut, sebanyak 86 persen responden menilai integrasi antarmoda di stasiun sudah baik hingga sangat baik, terutama pada periode mudik Lebaran yang identik dengan lonjakan mobilitas.
Baca juga: KAI: 890.165 pelanggan pakai "face recognition" demi efisiensi layanan
Baca juga: KAI: 748.855 pelanggan manfaatkan "face recognition" selama Nataru
Namun, survei juga mencatat sebanyak 61,2 persen responden masih memilih metode manual boarding, sementara penggunaan face recognition mengalami penurunan dibandingkan periode Lebaran 2025.
Survei ini melibatkan 536 responden pengguna KAI yang tersebar di 10 stasiun pada lima kota besar, yakni Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya, pada periode 20–21 Maret 2026.
Responden didominasi oleh generasi Z sebesar 66 persen, diikuti milenial 18,3 persen dan generasi alpha 8,6 persen, dengan komposisi 56 persen laki-laki dan 44 persen perempuan.
Secara keseluruhan, tingkat kepuasan pelanggan terhadap layanan KAI selama Lebaran 2026 berada pada level tinggi, dengan 92,1 persen responden menyatakan puas.
Faktor keamanan dan kenyamanan menjadi aspek utama pengalaman pelanggan, disusul efisiensi waktu perjalanan serta kontribusi KAI dalam mengurangi kemacetan.
Dari sisi aksesibilitas, layanan KAI di wilayah perkotaan dinilai mudah dijangkau oleh masyarakat, dengan 93,7 persen responden memberikan penilaian positif.
Survei juga menunjukkan digitalisasi layanan semakin kuat, tercermin dari lebih dari 90 persen transaksi pembelian tiket yang dilakukan secara daring, termasuk melalui aplikasi Access by KAI.
Rachmat menambahkan perubahan ekspektasi pelanggan perlu menjadi perhatian dalam pengembangan layanan ke depan.
“Ke depan, pelanggan tidak hanya mencari transportasi yang efisien, tetapi juga pengalaman perjalanan yang lebih bernilai. Kebutuhan seperti WiFi gratis, kemudahan layanan digital, hingga kenyamanan fasilitas menjadi faktor pembeda yang semakin penting,” ujarnya.
Survei juga menemukan pelanggan mulai mengharapkan peningkatan layanan bernilai tambah, dengan prioritas pada WiFi gratis di kereta sebesar 53,2 persen, fasilitas bagasi besar 13,1 persen, serta pemesanan makanan daring 10,8 persen.
Sementara itu, aspek yang masih perlu ditingkatkan mencakup sistem aplikasi Access by KAI, ketepatan waktu pemberian diskon tiket, serta kebersihan fasilitas di stasiun dan kereta.
Metodologi survei menggunakan pendekatan mixed-methods atau gabungan kuantitatif dan kualitatif, dengan 80 persen pertanyaan berbasis skala likert dan 20 persen pertanyaan terbuka untuk menggali masukan eksploratif.
Penilaian survei difokuskan pada empat aspek utama, yakni layanan dan fasilitas di stasiun, layanan di kereta, pembelian tiket, serta dampak sosial layanan KAI.
Baca juga: ASDP uji coba teknologi pemindai wajah penumpang di Natal-tahun baru
Baca juga: Tiga juta penumpang kereta manfaatkan fasilitas pengenal wajah
Pewarta: Ida Nurcahyani
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































