Berlin (ANTARA) - Warga Jerman secara signifikan mengubah pandangan mereka terhadap Amerika Serikat (AS), dengan hampir dua pertiga responden kini melihat sekutu Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) itu sebagai potensi ancaman bagi perdamaian dunia, demikian menurut hasil survei yang dirilis pada Selasa (10/2).
Jajak pendapat yang dilakukan Institut Allensbach pada Januari untuk Center for Strategy and Higher Leadership itu mendapati bahwa 65 persen responden menyebut AS sebagai salah satu negara yang menimbulkan bahaya terbesar bagi perdamaian global.
Data tersebut menunjukkan penurunan tajam persepsi publik Jerman terhadap AS sejak Donald Trump menjabat untuk masa jabatan keduanya pada Januari 2025.
Pada 2024, hanya 24 persen warga Jerman yang memandang AS sebagai ancaman perdamaian dunia. Angka itu meningkat menjadi 46 persen pada 2025 sebelum mencapai level tertinggi pada saat ini.
Survei itu juga memperlihatkan meningkatnya keraguan warga Jerman terhadap komitmen AS di NATO. Hanya sekitar sepertiga responden, yakni 32 persen, yang meyakini AS akan memberikan bantuan militer jika Eropa diserang. Sebanyak 35 persen menyatakan tidak percaya hal tersebut akan terjadi, sementara 33 persen lainnya belum menentukan sikap.
Meski kekhawatiran terhadap Washington meningkat, Rusia tetap menjadi negara yang paling banyak dipandang sebagai ancaman utama terhadap keamanan global.
Sekitar 81 persen responden menilai Rusia berbahaya. China menempati urutan ketiga dalam persepsi ancaman warga Jerman, dengan 46 persen responden memandangnya sebagai bahaya bagi perdamaian dan stabilitas dunia.
Institut tersebut melaksanakan survei representatif itu pada 6 hingga 19 Januari dengan mewawancarai sekitar 1.100 warga Jerman.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Jerman beri peringatan perjalanan ke AS pasca penembakan Minneapolis
Baca juga: Tiga pesawat tempur AS dipindahkan dari Jerman ke Timur Tengah
Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































