Nyale, olahraga, dan masa depan Mandalika

1 hour ago 1
Masa depan Mandalika tidak semata ditentukan oleh seberapa cepat motor melaju di sirkuit, tetapi oleh seberapa dalam ia menghargai akar budayanya

Lombok Tengah (ANTARA) - Langit Pantai Seger masih gelap ketika ribuan orang mulai turun ke laut. Lampu senter menari di antara ombak kecil, suara tawa bercampur doa, dan bau asin yang khas menyambut mereka yang percaya bahwa nyale bukan sekadar cacing laut, melainkan jelmaan Putri Mandalika.

Di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, tradisi Bau Nyale kembali menjadi denyut nadi budaya sekaligus penggerak ekonomi.

Pada 2026, Bau Nyale tidak lagi berdiri sendiri sebagai pesta rakyat. Ia hadir dalam lanskap yang lebih luas: sports tourism, investasi, dan strategi keberlanjutan pariwisata NTB.

Di satu sisi ada Sirkuit Pertamina Mandalika dengan gemuruh MotoGP yang kontraknya bersama Dorna berakhir pada 2031. Di sisi lain, ada warisan budaya yang telah hidup ratusan tahun, jauh sebelum aspal sirkuit dibentangkan.


Fondasi ekonomi

Bau Nyale selama ini dilaksanakan sekitar Februari hingga Maret, berpusat di Pantai Seger yang berada di dalam KEK Mandalika. Rangkaian kegiatannya tidak sebatas menangkap nyale. Ada pemilihan Puteri Mandalika, Karnaval Seribu Putri Mandalika, hingga berbagai pertunjukan seni tradisional.

Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri menegaskan bahwa Pantai Seger harus menjadi milik masyarakat dalam mendukung penguatan budaya Bau Nyale untuk pengembangan pariwisata berkelanjutan.

“Bau Nyale bukan hanya atraksi tahunan, tetapi identitas masyarakat Lombok Tengah. Kami ingin memastikan bahwa pengembangan KEK Mandalika tetap memberi ruang utama bagi budaya lokal. Jika tradisi ini kuat, maka ekonomi masyarakat juga akan ikut kuat,” ucapnya.

Pernyataan itu penting. Sebab, pembangunan destinasi kerap terjebak pada infrastruktur fisik dan melupakan ruh sosial-budaya yang menjadi fondasinya.

Menurut Lalu Pathul Bahri, setiap puncak Bau Nyale mampu mendongkrak okupansi hotel di Mandalika dan sekitarnya. Pelaku UMKM, mulai dari pedagang kuliner, penyewaan tikar, hingga perajin cenderamata, merasakan lonjakan pendapatan signifikan. Momentum ini memperlihatkan bagaimana tradisi lokal bisa menjadi penggerak ekonomi riil.

Namun, dampak ekonomi musiman saja tidak cukup. Tantangan berikutnya adalah menjadikan Bau Nyale sebagai agenda wisata yang terkurasi, terjadwal, dan terintegrasi dengan kalender nasional, tanpa kehilangan makna kulturalnya.

Di sinilah pentingnya keseimbangan. Tradisi tidak boleh direduksi menjadi sekadar tontonan. Ia harus tetap hidup sebagai identitas masyarakat Sasak, sekaligus diberi ruang untuk bertransformasi dalam konteks ekonomi modern.


Olahraga wisata

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |